ADVERTISEMENT

Biar Harga Tiket Turun, Bengkel Pesawat Garuda Usul Insentif Impor

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 02 Sep 2022 16:06 WIB
Pekerja Garuda Maintenance Facility (GMF) dengan menggunakan alat pelindung diri (APD) lengkap melakukan penyemprotan cairan disinfektan pada bagian pesawat Garuda Indonesia di Hanggar GMF AeroAsia Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Kamis (13/8/2020). Hal tersebut dilakukan sebagai upaya memutus mata rantai penyebaran COVID-19. ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/aww.
Foto: ANTARA FOTO/MUHAMMAD IQBAL
Jakarta -

Harga tiket pesawat masih mahal. Salah satu faktor mahalnya tiket pesawat adalah Indonesia mengalami defisit pesawat, jumlah armada yang siap terbang tidak bisa mengimbangi jumlah permintaan terbang yang sedang meningkat pesat.

Defisit jumlah pesawat juga terjadi karena antrean yang terjadi pada fasilitas maintenance, repair and overhaul (MRO) atau mudahnya disebut sebagai bengkel pesawat. Lalu, apa yang bisa diupayakan bengkel pesawat yang ada di Indonesia untuk menurunkan pesawat?

Direktur Utama PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk Andi Fahrurrozi memaparkan pihaknya sebagai salah satu bengkel pesawat besar di Indonesia terus berupaya meningkatkan efektivitas perawatan pesawat untuk menurunkan beban operasional pesawat.

Andi menjelaskan salah satu yang mau dilakukan adalah meminta Kementerian Perindustrian untuk memberikan insentif khusus untuk impor material dan komponen pesawat. Hal itu dilakukan GMF dengan asosiasi perusahaan MRO.

Dengan begitu, biaya perawatan pesawat bisa lebih murah dan membuat biaya operasional maskapai berkurang, ujungnya tiket bisa turun harganya.

"Kami bahas mengenai bea masuk dan pajak dalam rangka impor untuk material dan komponen pesawat, sehingga apabila ini ada insentif khusus dari pemerintah, diharapkan beban biaya maintenance akan berkurang bagi airlines, dan mungkin bisa langsung menurunkan harga tiket pesawat," ungkap Andi dalam konferensi pers virtual, Jumat (2/9/2022).

"Perseroan berupaya tingkatkan efektivitas perawatan pesawat sehingga dapat berdampak positif pada beban operasional maskapai," sebutnya.

Di sisi lain, soal waktu pengerjaan perawatan pesawat pihaknya memang tidak bisa diburu-buru. Salah satu masalahnya adalah pada rantai pasok pengiriman material dan komponen pesawat yang diimpor dari luar negeri.

Waktu pengiriman onderdil pesawat makin lama saat ini. Sebelum pandemi, cuma butuh 2-3 hari untuk mengirimkan onderdil dari Eropa hingga Amerika ke Indonesia. Kini waktu pengiriman bisa bertambah lama hingga 7 hari.

Apalagi antrean perawatan maskapai di GMF pun sangat panjang. Ada dari maskapai lokal hingga luar negeri dari kawasan Timur Tengah dan juga Asia Tenggara.

"Masalahnya ini dalam masa shipment, dulu dri US dan Eropa cuma butuh waktu 2-3 hari, sekarang lebih dari 7 hari. Jadi penyelesaian pesawat memang lebih lama daripada biasanya," sebut Andi.

Bersambung ke halaman berikutnya. Langsung klik

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT