ADVERTISEMENT

Ingat! Jangan Ambil Hak Orang Miskin, BBM Subsidi Bukan Buat Orang Kaya

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 19 Sep 2022 17:33 WIB
Sejumlah kendaraan antre mengisi bahan bakar minyak (BBM) di SPBU Tol Sidoarjo 54.612.48, Sidoarjo, Jawa Timur, Senin (11/4/2022). Pemerintah menetapkan Pertalite sebagai jenis BBM khusus penugasan yang dijual dengan harga Rp7.650 per liter dan Biosolar Rp5.510 per liter, sementara jenis Pertamax harganya disesuaikan untuk menjaga daya beli masyarakat yakni menjadi Rp 12.500 per liter dimana Pertamina masih menanggung selisih Rp3.500 dari harga keekonomiannya sebesar Rp16.000 per liter di tengah kenaikan harga minyak dunia. ANTARA FOTO/Zabur Karuru/rwa.
Ilustrasi/Foto: ANTARA FOTO/Zabur Karuru
Jakarta -

Bahan bakar minyak (BBM) subsidi disiapkan oleh pemerintah untuk masyarakat miskin. Namun, banyak orang kaya yang mampu tetap menikmati BBM subsidi.

Anggota Komisi VII DPR RI Eddy Soeparno mengungkapkan sebaiknya orang mampu tidak membeli BBM bersubsidi.

"Butuh personal integrity lah ya, apakah memang saya layak menggunakan ini? Kadang saya suka melihat pada saat melakukan sidak di beberapa daerah, mobilnya bagus dan terlihat pekerja profesional atau ibu-ibu baru narik arisan, tapi isinya tetap Pertalite," kata dia dalam diskusi virtual, Senin (19/9/2022).

Dia mengungkapkan, dibutuhkan peraturan yang ketat dari pemerintah terkait pembelian BBM subsidi ini.

"Kita menunggu aturan itu keluar, boleh isi atau tidak. Tapi saya kira itu kembali ke kita apakah pantas isi BBM subsidi, apakah kita mengambil hak orang lain dengan menggunakan BBM subsidi ini," jelasnya.

Anggota Komite Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas (BPH Migas) Saleh Abdurrahman mengungkapkan contohnya ada masyarakat yang seharusnya bisa membeli BBM nonsubsidi tapi karena ada harga yang lebih rendah membuat dia memilih yang lebih murah.

"Ini memang kalau sistem distribusi terbuka, semua orang boleh beli dan umumnya orang akan beli yang murah," jelas dia.

Saleh juga mengungkapkan memang pada 2021 konsumsi BBM subsidi tidak berlebihan dan sesuai kuota. "Karena tahun 2021 tidak over, sesuai kuota akibat COVID-19. Tapi 2022 ini karena kita menghadapi perbaikan ekonomi jadi pertumbuhannya tinggi sekali," kata dia.

(kil/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT