ADVERTISEMENT

Pemerintah Klaim Konsumsi BBM Turun, Anggaran Subsidi Tak Jadi Bengkak?

Aulia Damayanti - detikFinance
Selasa, 20 Sep 2022 19:15 WIB
PT Pertamina (Persero) menaikan harga dua produk bahan bakar minyak (BBM) non subsidi per 18 September 2021. Dua produk tersebut berupa Pertamax Turbo RON 98 dan Pertamina Dex.
Foto: Rifkianto Nugroho
Jakarta -

Kementerian Keuangan mengatakan setelah kebijakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), konsumsi BBM menurun. Dengan begitu, menurut Staf Ahli Bidang Pengeluaran Negara Kementerian Keuangan Made Arya Wijaya belum tentu anggaran subsidi tahun ini akan bengkak hingga Rp 650 triliun.

"Belum tentu (anggaran subsidi bengkak), itu ternyata setelah penyesuaian anggaran di 2 September sampai sekarang konsumsinya turun loh," katanya saat ditemui di Gedung DPR RI, Selasa (20/9/2022).

Ia menjabarkan bahwa konsumsi rata-rata harian 70-80 ribu kilo liter, sekarang jadi turun ke 60-70 kilo liter. "Jadi, tren konsumsinya turun," jelasnya.

Made juga berharap anggaran subsidi BBM tidak jadi bengkak hingga ke angka Rp 650 triliun.

"Mudah-mudahan nggak kita berdoa saja," tutupnya.

Sebelumnya, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengungkapkan subsidi dan kompensasi energi tetap bengkak melewati Rp 502,4 triliun meski harga BBM naik. Dengan kenaikan harga itu, pembengkakan bisa diminimalkan menjadi 'hanya' Rp 650 triliun.

"Rp 502 triliun sudah membengkak sampai estimasi kita Rp 698 triliun. Dengan kenaikan Pertalite dan Solar, maka kita perkirakan tidak jadi di Rp 698 triliun, tapi sekitar Rp 650 triliun," kata Suahasil dalam acara CNBC Indonesia TV, Senin (5/9/2022).

"Jadi subsidinya ini masih besar sekali sebenarnya, masih Rp 650 triliun meskipun kita sudah melakukan peningkatan harga Pertalite dan Solar," tambahnya.

(ada/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT