Hilirisasi RI Tersandung SDM, Bahlil: Harus Besar Hati Terima TKA

ADVERTISEMENT

Hilirisasi RI Tersandung SDM, Bahlil: Harus Besar Hati Terima TKA

Anisa Indraini - detikFinance
Kamis, 06 Okt 2022 21:15 WIB
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia
Menteri Investasi Bahlil Lahadalia/Foto: YouTube Setpres
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menyebut upaya pemerintah untuk mendorong hilirisasi menghadapi tantangan besar. Salah satu tantangannya terkait kesiapan sumber daya manusia (SDM) di Tanah Air.

Menurut Bahlil, Indonesia perlu memaksimalkan sumber daya yang ada dan harus berbesar hati terima tenaga kerja asing (TKA). Hal itu dikatakan dalam orasi ilmiah di hadapan 1.200 mahasiswa bertajuk 'Transformasi Ekonomi melalui Hilirisasi dengan Kearifan Lokal' di Universitas Indonesia (UI).

"Kita ini jangan pesimis. Indonesia harus siap menuju hilirisasi. Strateginya maksimalkan tenaga dalam negeri yang sudah ada. Kalau belum ada, kita harus berbesar hati terima dari luar (negeri). Jauh lebih penting adalah transfer knowledge, tinggal bagaimana kita melakukan percepatan," katanya dilansir dari Antara, Kamis (6/10/2022).

Bahlil menuturkan sejak masa penjajahan sampai kemerdekaan (tahun 90-an), ekspor Indonesia masih sama yaitu berupa komoditas mentah. Pemerintah perlu mendorong agar tidak terjebak menjadi negara pendapatan menengah (middle income trap). Hilirisasi dinilai jadi solusi tepat.

"Kita harus optimis di era ekonomi yang gelap. Ke depannya, kami ingin Indonesia menjadi salah satu pemain terbesar melalui hilirisasi. Tidak hanya ingin hilirisasi, kami juga ingin investasi yang masuk ke daerah wajib berkolaborasi dengan UMKM," imbuhnya.

Senada, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Teguh Dartanto dalam pengantar orasi ilmiah mengatakan mimpi Indonesia untuk menjadi negara maju dan keluar dari middle income trap adalah dengan melakukan transformasi ekonomi.

Untuk itu, hilirisasi dilakukan agar perekonomian dalam negeri tumbuh, dengan prinsip lebih hijau dan lebih berkelanjutan. Namun ia mengingatkan agar harus ada nilai tambah melalui hilirisasi. Artinya, investasi tidak sekadar angka, tapi yang memberikan dampak bagi masyarakat Indonesia.

"Dulu kita ekspor konsentrat, tetapi dengan hilirisasi, kita olah di dalam negeri, lalu produknya kita ekspor. Kenapa dilakukan? Karena nilai tambahnya akan jatuh di negara kita. Salah satu alasan kita bertahan selama COVID-19 ini adalah hasil dari hilirisasi, hingga ekspor kita meningkat drastis. Di sini juga ada isu kearifan lokal, di mana investasi tujuan akhirnya adalah pembangunan manusia dan bangsa kita," kata Teguh.



Simak Video "Wanti-wanti Bahlil soal RI Bisa Antre Jadi Pasien IMF di Tahun Politik"
[Gambas:Video 20detik]
(aid/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT