Smelter di Bangka Barat Operasi Bulan Ini, Pengelolaan Timah Hemat 25%

ADVERTISEMENT

Smelter di Bangka Barat Operasi Bulan Ini, Pengelolaan Timah Hemat 25%

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 03 Nov 2022 15:42 WIB
Presiden Joko Widodo mengawali kunjungan kerjanya ke Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dengan meninjau pembangunan smelter baru yang dimiliki PT Timah Tbk di Kabupaten Bangka Barat, pada Kamis, 20 Oktober 2022. Dalam keterangannya selepas peninjauan, Presiden menyebut bahwa pembangunan smelter tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melakukan hilirisasi bahan tambang.
Jokowi Saat Mengecek Smelter Timah di Banka (Foto: Rusman/Biro Setpres)
Jakarta -

Smelter atau pabrik pengolahan timah dibangun oleh PT Timah di Kabupaten Bangka Barat, Kepulauan Bangka Belitung. Smelter dibangun dengan sistem Top Submerge Lance (TSL) Ausmelt Furnace di Kawasan Unit Metalurgi Muntok.

PT Timah mengklaim pembangunan TSL Ausmelt Furnace telah rampung 100% dan direncanakan akan mulai beroperasi secara penuh pada akhir November ini.

"Dengan beroperasinya Ausmelt dapat menekan cost pengolahan sebesar 25% dibandingkan dengan menggunakan Reverberatory furnace," kata Sekretaris Perusahaan PT TIMAH Tbk, Abdullah Umar Baswedan dalam keterangannya, Kamis (3/11/2022).

Abdullah mengatakan tujuan transformasi teknologi pengolahan ini untuk optimalisasi teknologi, peningakatan kapasitas, efisiensi produksi dan keselamatan serta kesehatan lingkungan.

"Dengan beroperasinya TSL Ausmelt Furnace tentunya dapat meningkatkan efektifitas produksi dengan proses pengolahan yang lebih efisien," ucapnya.

PT Timah juga menggandeng Outotec australia yang berpusat di Finlandia sebagai provider teknologi TSL Ausmelt Furnace.

Kemudian, pembangunan TSL Ausmelt Furnace sendiri adalah strategi untuk menjawab tantangan yang dihadapi industri pertambangan timah saat ini berupa ketersediaan biji timah dengan kadar tinggi atau diatas 70% Sn sudah terbatas.

Teknologi peleburan timah yang dimiliki PT Timah Tbk saat ini, Tanur Reverberatory tidak mempunyai fleksibilitas mengolah konsentrat bijih Timah kadar rendah (< 70% Sn). Selain itu, membutuhkan waktu yang relatif lebih lama untuk melebur timah dan terak.

Tanur Reverberatory menggunakan bahan bakar minyak (marine fuel oil) dengan reduktor batu bara jenis antrasit yang lebih banyak dan membutuhkan biaya yang relatif besar.

Maka dari itu untuk mampu bersaing dengan industri pertambangan timah dunia, PT Timah harus menekan cost produksi sehingga penggunaan teknologi menjadi hal yang harus dilakukan untuk menjawab tantangan ke depan.

Dengan TSL Ausmelt Furnace, diharapkan mampu mengolah konsentrat bijih timah dengan kadar rendah mulai dari 40% Sn, dengan kapasitas produksi 40.000 ton crude tin per tahun atau 35.000 metrik ton ingot per tahun.

Waktu pengolahan juga lebih singkat, untuk satu batch pengolahan hanya membutuhkan waktu sekitar 10,5 jam. Sedangkan pada Reverberatory membutuhkan waktu 24 jam per-batch.

Selain itu, ditengah gencarnya isu lingkungan yang menyoroti perusahaan pertambangan, TSL Ausmelt lebih safety dan menerapkan teknologi ramah lingkungan karena dilengkapi dengan Hygiene Sistem dan Waste Water Treatment.

(hal/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT