Program Bantuan Listrik PLN Tingkatkan Produktivitas Petani Bawang NTB

ADVERTISEMENT

Program Bantuan Listrik PLN Tingkatkan Produktivitas Petani Bawang NTB

Sukma Nur - detikFinance
Sabtu, 05 Nov 2022 18:25 WIB
Program Bantuan Listrik PLN Tingkatkan Produktivitas Petani Bawang di NTB
Foto: PLN
Jakarta -

Petani bawang di Desa Parangina, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB) mengaku terbantu adanya program Electrifying Agriculture atau listrik untuk agrikultur dari PT PLN (Persero) yang memberikan lampu penerangan untuk lahan pertanian mereka. Sebab, adanya aliran listrik tersebut meningkatkan produktivitas dalam bertani, termasuk membantu pengendalian hama menjadi lebih baik.

Salah satu petani, Mohammad Ali menuturkan cahaya dari lampu saat malam hari tidak disukai oleh hama. Hal tersebut membantu para petani dalam menghemat biaya penggunaan pestisida. Atas penghematan tersebut, petani kini bisa meningkatkan hasil panen bawang merah dan akhirnya menambah pendapatannya.

"Ketika kita perbandingkan, dengan atau tidak menggunakan lampu, sangat jauh berbeda. Penghematan luar biasa dari sisi biaya," ujar Ali dalam keterangan tertulis, Sabtu (5/11/2022).

Ia melanjutkan, sebelum adanya program tersebut, biaya pengendalian hama terbilang tinggi. Setelah adanya program dari PLN, Kelompok Tani So Lolu dan Kelompok Tani So Wawo Rasa yang juga ada di desa itu bisa berkembang menjadi lebih baik.

Hal senada juga disampaikan oleh seorang petani yang tergabung dalam Kelompok Tani So Wawo Rasa bernama Raflin. Ia mengungkapkan hampir 80% petani bawang di Desa Parangina saat ini telah menggunakan lampu. Hal ini terjadi karena adanya bantuan listrik dari PLN.

Menurut Raflin, Kelompok Tani So Wawo Rasa yang beranggotakan 40 orang tersebut, sebelumnya harus mengeluarkan banyak biaya untuk pengendalian hama. Para petani biasanya harus mengeluarkan uang lebih dari Rp 6 juta untuk membeli pestisida. Setelah adanya bantuan ini, pengeluarannya jauh berkurang bahkan mencapai 60% dibanding sebelumnya.

"Dari pengeluaran Rp 6 juta, maksimal sekarang hanya Rp 2 juta-an saja. Kira-kira kita bisa hitung dengan kasat mata untuk Kelompok Tani So Wawo rasa, hematnya Rp 4 juta dikali 40 orang petani, totalnya Rp 160 juta per kelompok. Belum lagi kelompok-kelompok lain," tutur Raflin.

Rafli berterima kasih kepada PLN karena dengan adanya lampu di lahan pertanian bawang merah ini bisa mengurangi beban pengeluaran untuk membeli pestisida dan lainnya.

Sementara itu, Camat Sape, Muhammad Akbar, mengungkapkan program Electrifying Agriculture dari PLN memberikan dampak yang besar kepada masyarakat di wilayahnya. Lampu-lampu penerangan yang tampak seperti hiasan di lahan pertanian disebut memberi keunikan tersendiri sehingga memicu geliat Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) setempat.

"Sekarang kami punya wisata lampu di Desa Parangina dan ini sangat luar biasa. UMKM kami bergeliat karena mulai bertumbuh lapak penjual kopi dan makanan ringan. Jadi bukan hanya meningkatkan taraf petani saja, tapi juga masyarakat sekitar karena ada destinasi baru yang terbentuk. Orang dari mana-mana akan menikmati wisata lampu ini," terang Akbar.

Di sisi lain, General Manager PLN Unit Induk Wilayah Nusa Tenggara Barat Sudjarwo menjelaskan untuk mendukung para petani Desa Parangina lewat program Electrifying Agriculture, pihaknya menyiapkan pemasangan empat unit Stasiun Pengisian Listrik Umum dengan 2 unit kapasitas 2.200 Volt Ampere (VA) dan 2 unit kapasitas 5.500 VA.

"Melihat potensi alam yang ada, PLN hadir untuk membantu masyarakat di Sape yang hampir 70 persen penduduknya adalah petani. Hal ini juga selaras dengan misi PLN untuk menjadi pendorong ekonomi, khususnya di NTB," ungkap Sudjarwo.

Sudjarwo mengatakan dukungan ini adalah upaya dari perseron terhadap prinsip Environmental, Social and Governance (ESG) dalam menciptakan pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Pihaknya pun berharap, Desa Parangina kelak akan semakin maju dan menjadi contoh bagi para petani dari desa lain.

(fhs/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT