Eropa Kalang Kabut Dihantam Krisis Energi, RI Gimana?

ADVERTISEMENT

Eropa Kalang Kabut Dihantam Krisis Energi, RI Gimana?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 16 Nov 2022 14:06 WIB
MANCHESTER, ENGLAND - OCTOBER 19: Night time falls behind electricity pylons and a sub station on October 19, 2022 in Manchester, England. The British utility company, National Grid, said this week that UK households may face power cuts this winter for up to three hours at a time, if gas supplies run low. The UK relies heavily on gas to produce electricity, and gas supplies to Europe have been severely disrupted by the fallout from Russias invasion of Ukraine (Photo by Christopher Furlong/Getty Images)
Ilustrasi Krisis Energi (Foto: Getty Images/Christopher Furlong)
Jakarta -

Eropa sedang mengalami krisis energi. Pasca pecahnya perang Rusia-Ukraina, harga komoditas energi di Eropa melonjak, apalagi menjelang dimulainya musim dingin.

Krisis energi ini membuat sejumlah negara kalang kabut. Lantas, bagaimana kondisi energi di Indonesia?

Menurut Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional (DEN) Djoko Siswanto, Indonesia tidak sedang mengalami krisis energi atau akan mengalaminya. Bahkan indeks ketahanan energi Indonesia tergolong aman.

"Alhamdulillah sebetulnya tingkat indeks ketahanan energi kita itu di angka 6,57, itu masuk kategori tahan," katanya di kantor Sekretariat Jenderal DEN Jakarta Selatan, Rabu (16/11/2022).

Ia menjelaskan, angka 6-8 termasuk kategori tahan, dan 8-10 masuk ke kategori sangat tahan. Capaian ini masih lebih baik dibandingkan dengan 5 tahun lalu. Dengan begitu, meski di luar terjadi krisis energi Indonesia masih tergolong aman.

"Jadi meskipun di luar itu terjadi krisis batu bara, krisis gas, kita Alhamdulillah masih tahan," ungkapnya.

Ada 4 variabel yang menjadi tolak ukur ketahanan energi. Keempatnya adalah ketersediaan energi, harga, infrastruktur dan lingkungan.

Djoko mencontohkan, ketersediaan batu bara Indonesia masih banyak. Sehingga, saatharga batu bara di negara lain naik empat kali lipat, harga maksimum batu bara di Indonesia masih US$ 70.

"Ketersediaan batubara cukup banyak. Negara lain naik empat kali lipat kita tetap harga maksimum dalam negeri US$ 70, di luar negeri pernah US$ 425. Kemudian gas, untuk PLN maksimum US$ 6, meski LNG dunia US$ 40," ujarnya.

Bahkan untuk batu bara, 75% produksi nasional diekspor ke luar negeri. Indikator inilah yang menurut Djoko memperkuat ketahanan energi nasional, baik dari segi harga dan ketersediaan energi.

"Itu harga ya, jadi batu ara, gas, BBM itu ditetapkan pemerintah, jadi kita masih tahan lah. Alhamdulillah masih tahan kita, sampai saat ini masih tahan. Tapi nggak tahu nanti tahun depan. Apakah dana kompensasi maupun subsidi tersedia kita nggak tahu," pungkasnya.

Lihat juga video 'Lis Truss Pimpin Rapat Kabinet Perdana, Bahas Strategi Atasi Krisis Energi di Inggris':

[Gambas:Video 20detik]



(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT