Pantas Luhut Kesal, Kasus Tumpahan Minyak Montara Baru Kelar 13 Tahun

ADVERTISEMENT

Pantas Luhut Kesal, Kasus Tumpahan Minyak Montara Baru Kelar 13 Tahun

Ilyas Fadilah - detikFinance
Kamis, 24 Nov 2022 17:00 WIB
Ilustrasi sektor migas
Foto: Ilustrasi Migas (Fauzan Kamil/Infografis detikcom)
Jakarta -

Perjalanan kasus tumpahan minyak Montara berlangsung cukup panjang. Kasus bermula pada 21 Agustus 2009, saat anjungan minyak di lapangan Montara milik PTT Exploration and Production (PTTEP) yang ada di Australia meledak.

PTTEP sendiri merupakan perusahaan minyak dan gas dari Thailand. Dalam insiden ini, diperkirakan lebih dari 23 juta liter minyak mengalir ke Laut Timor hingga mencemari pesisir Indonesia, khususnya NTT.

Saking lamanya penyelesaian kasus ini, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Menko Marves) Luhut Binsar Pandjaitan mengaku sampai kesal.

"Dulu juga saya terus terang saya kesal. Karena harusnya selesai sebelum zaman Jokowi. Tapi sudahlah, kita nggak usah cari yang lalu," kata Luhut dalam konferensi pers di gedung Kemenko Marves, Kamis (24/11/2022).

Lantas, bagaimana perjalanan lengkap kasus tumpahan minyak Montara? Dalam catatan detikcom, Ketua Satgas Penanganan Kasus Tumpahan Minyak Montara, Purbaya Yudhi Sadewa pernah menjelaskan kronologi mulai dari terjadinya tumpahan minyak hingga kasus ini berlangsung lama.

"Pertama, pencemaran Montara tahun 2009 di laut Timor terjadi di Perairan Australia dan merembes masuk secara luar biasanya ke perairan Laut Timor Indonesia," kata Purbaya pada tahun 2019.

Dia menjelaskan, luasan tumpahan minyak Montara pada 2009 itu diperkirakan mencapai paling kurang 90 ribu kilometer persegi. Ada beberapa pihak yang terlibat atas kejadian tersebut, yaitu PTTEP, Australian Maritime Safety Authority (AMSA), perusahaan Halliburton dan Sea Drill Norway.

Berikutnya pada 2010 telah dilakukan Nota Kesepahaman antara Dubes Australia Greg Moriarry dan Freddy Numberri. Itu merupakan titik awal penyelesaian kasus tumpahan minyak Montara. Sayangnya, itu tidak pernah ditindaklanjuti oleh Australia maupun Indonesia.

"Hal ini tidak pernah ditindaklanjuti baik oleh Australia dan Indonesia sehingga masih terkatung-katung ," ujarnya saat itu.

Permasalahannya tak cukup berkutat di tumpahan minyak. Purbaya mengatakan, AMSA juga menggunakan bubuk kimia Dispersant jenis Corexit 9872 A dan lain-lain yang sangat beracun. Mereka menyemprotkan bubuk kimia ini untuk tenggelamkan sisa tumpahan minyak Montara ke dalam dasar Laut Timor.

"Akibatnya, 1 kali 24 jam banyak sekali ikan besar dan kecil mati termasuk di kawasan kita (Indonesia)," terangnya.

Bersambung ke halaman sealnjutnya.

Simak juga Video: 30.000 Galon BBM Tumpah di Pantai Wisata Bahama

[Gambas:Video 20detik]



ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT