Airlangga Harap Iklim Investasi Hulu Migas Berjalan Kondusif

ADVERTISEMENT

SKK Migas IOG Convention 2022

Airlangga Harap Iklim Investasi Hulu Migas Berjalan Kondusif

Sukma Nur Fitriana - detikFinance
Selasa, 29 Nov 2022 22:30 WIB
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto
Foto: Dok. Kementerian Perekonomian
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menilai transisi energi adalah hal yang harus dihadapi bersama. Oleh karena itu, agar tercapainya peningkatan produksi, pemerintah mendorong investasi hulu migas tetap berjalan kondusif dengan berbagai kebijakan yang menarik minat investasi.

"Peningkatan produksi migas di dalam negeri merupakan cita-cita kita bersama dan ini sudah dibahas sejak bertahun-tahun. Tentunya perlu ada langkah-langkah yang harus dilakukan oleh SKK Migas dengan situasi iklim investasi maupun insentifnya ini bisa lebih baik di samping itu juga mendorong transisi energi yang mengarah pada energi baru dan terbarukan," kata Airlangga dalam keterangan tertulis, Selasa (29/11/2022).

Hal ini ia sampaikan secara daring pada 3rd International Oil and Gas Conference 2022 yang digelar secara hybrid di Bali Nusa Dua Convention Center, Bali, Kamis (24/11) lalu.

Lebih lanjut, kata Airlangga, agar investasi di hulu migas tetap berjalan secara kondusif, kebutuhan terhadap insentif baik fiskal maupun non fiskal perlu dibahas secara mendalam antara pemangku kepentingan.

Hal ini juga dibahas dalam KTT G20 yang diselenggarakan pada 15-16 November lalu. Konferensi tersebut telah menghasilkan kesepakatan bersama antara kepala negara di berbagai bidang yang salah satunya adalah transisi energi. Salah satu kesepakan tersebut sepakat untuk mencapai energi yang lebih bersih dan ramah lingkungan.

Namun, di tengah situasi geopolitik tak menentu, terutama karena Rusia-Ukraina, transisi energi tidak mudah. Hal ini terlihat dari fluktuasi dan tingginya harga energi, terutamanya gas dan termasuk harga BBM di Indonesia hingga hari ini.

Airlangga menyebutkan kondisi perekonomian dalam satu tahun ke depan masih punya berbagai tantangan yang disebut sebagai perfect storm. Yaitu, selain ancaman COVID-19 yang belum selesai, ada juga kondisi perang yang berlangsung.

Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sebesar 3,2% dan diperkirakan masih turun di tahun 2023 menjadi 2,7%. Inflasi di tahun 2022 diperkirakan 8,8%, dan turun secara global menjadi 6,5% di 2023.

Namun demikian, pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di 5,7% di triwulan ketiga 2022, inflasi menurun dari 5,9 pada Agustus saat kenaikan BBM menjadi 5,7 di bulan Oktober.

"Berdasarkan data tersebut Indonesia menjadi salah satu negara yang menjadi the brights spot, jadi masyarakat di level ASEAN relatif lebih resiliens terhadap tantangan ekonomi," jelas Airlangga.

Secara spasial, di wilayah Indonesia pertumbuhan membaik, tertinggi ada di Sulawesi mencapai 8,25%, kemudian Maluku-Papua 7,51%, diikuti Bali, Nusa Tenggara Jawa Kalimantan dan Sumatera.

"Tentu di luar Bali, Sulawesi, di Maluku dan Papua ini didorong harga mineral yang tinggi," sambungnya.

Airlangga berharap kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah, badan usaha baik milik swasta, maupun milik negara dan kontraktor migas bisa lebih baik lagi agar target yang dicanangkan bisa terealisasi.

"Target tersebut tentunya sangat berpengaruh pada penerimaan negara di APBN dan juga terhadap ekspor Indonesia," pungkasnya.

(akd/ega)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT