Bukan AS, Arab Saudi Gandeng China Kawal Pasokan Minyak

ADVERTISEMENT

Bukan AS, Arab Saudi Gandeng China Kawal Pasokan Minyak

Ilyas Fadilah - detikFinance
Sabtu, 10 Des 2022 15:04 WIB
BEIJING, CHINA - MARCH 16:  Chinese President Xi Jinping (R) invites Saudi Arabias King Salman bin Abdulaziz Al Saud (L) to view an honour guard during a welcoming ceremony inside the Great Hall of the People on March 16, 2017 in Beijing, China. At the invitation of President Xi Jinping, King Salman Bin Abdul-Aaziz Al-Saud of the Kingdom of Saudi Arabia will pay a state visit to China from March 15 to 18, 2017.  (Photo by Lintao Zhang/Getty Images)
Foto: Getty Images/Lintao Zhang
Jakarta -

China dan Arab Saudi menekankan pentingnya stabilitas pasar minyak global dan peran dalam mencapai keseimbangan ini. Hal ini menyusul kunjungan tiga hari Presiden China Xi Jinping ke Arab Saudi.

"China menyambut peran Kerajaan Saudi sebagai pendukung keseimbangan dan stabilitas di pasar minyak dunia, dan sebagai pengekspor utama minyak mentah yang andal ke China," Kata Xi, dikutip dari CNBC, Sabtu (10/12/2022).

China adalah importir minyak mentah terbesar di dunia, sementara Arab Saudi adalah eksportir terbesar sumber daya alam tersebut. Saudi juga memimpin aliansi produsen OPEC+.

Xi bertemu dengan Raja Salman bin Abdul-Aziz Al Saud dan pewarisnya, Putra Mahkota dan Perdana Menteri Saudi Mohammed bin Salman (MBS). Pembicaraan sejauh ini menghasilkan penandatanganan perjanjian kemitraan strategis komprehensif dan 12 perjanjian dan nota kesepahaman dalam topik termasuk hidrogen, investasi langsung dan pembangunan ekonomi.

Kedua negara pada hari Jumat menegaskan mereka akan terus mendukung satu sama lain. Lebih jauh, mendesak juga kerja sama dengan Iran dengan Badan Energi Atom Internasional.

Xi mengundang Raja Salman untuk datang ke china. Adapun Xi tiba di Riyadh, ibu kota Arab Saudi pada 7 Desember untuk kunjungan tiga hari pada saat Beijing berusaha merevitalisasi ekonominya. Sementara Arab Saudi memelihara hubungan timur tengah setelah konflik kebijakan energi dengan Amerika Serikat (AS).

Washington sebelumnya menuduh Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman membunuh jurnalis pembangkang yang berbasis di AS, Jamal Khashoggi.

Kepentingan energi terus mengalami penyimpangan. Washington berulang kali mendesak OPEC+ untuk melepaskan pasokan minyak mentah lebih banyak ke pasar dan meringankan beban konsumen yang bersaing dengan akses energi terbatas setelah invasi Rusia ke Ukraina.

Keputusan OPEC+ pada Oktober untuk mengurangi kuota produksi sebesar 2 juta barel per hari mulai November, menyebabkan perang kata-kata antara pejabat AS dan Saudi.

Kontrak minyak mentah Brent untuk pengiriman Februari diperdagangkan pada US$ 76,13 per barel pada pukul 11:55 waktu London Jumat pagi. Angka ini turun 2 sen dari 8 Desember. Kontrak Nymex WTI bulan depan berada di US$ 71,79 per barel, bertambah 33 sen dari harga penutupan Kamis.

(hns/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT