Beda Hitungan, RI-China Belum Sepakat soal Bengkak Biaya Kereta Cepat!

ADVERTISEMENT

Beda Hitungan, RI-China Belum Sepakat soal Bengkak Biaya Kereta Cepat!

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 09 Des 2022 11:00 WIB
Rangkaian Electric Multiple Unit (EMU) menjalani uji operasional Kereta Cepat Jakarta-Bandung di Stasiun Tegalluar, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Rabu (16/11/2022). Proses uji coba operasional Kereta Cepat Jakarta Bandung sejauh 15 km dengan kecepatan terbatas 80 km/jam tersebut disaksikan oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden China Xi Jinping secara daring disela KTT G20 di Bali. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi/tom.
Foto: ANTARA FOTO/RAISAN AL FARISI
Jakarta -

Kereta Cepat Jakarta-Bandung yang merupakan proyek kerja sama Indonesia dan China mengalami pembengkakan biaya pembangunan atau cost overrun. Gembar-gembor cost overrun sendiri sudah terjadi sejak tahun lalu, namun sampai saat ini belum ada juga kesepakatan antara kedua belah pihak berapa sebetulnya biaya bengkak yang terjadi.

Direktur Utama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) Dwiyana Slamet Riyadi menyatakan sampai saat ini negosiasi alot masih terjadi dengan pihak China. Beda hitungan total bengkak kereta cepat jadi alasannya.

"Sama China negosiasi cost overrun itu memang belum selesai betul, sedang proses nego," ujar Dwiyana ketika ditemui wartawan di Gedung DPR RI, Jakarta Pusat, Kamis (8/12/2022).

Lalu kenapa beda hitungan bisa terjadi? Dwiyana menjelaskan pihak China tidak mengakui beberapa aspek perhitungan bengkak biaya proyek yang dihitung di Indonesia. Perhitungan cost overrun versi pemerintah Indonesia dinilai terlalu tinggi daripada perhitungan oleh pihak China.

Dwiyana menjelaskan beberapa aspek yang tidak mau dihitung China misalnya pajak pengadaan lahan, ada juga investasi persinyalan dan kelistrikan di pembangunan kereta cepat.

"Kenapa China cenderung lebih kecil hitungan cost overrun-nya? Karena pemerintah China belum mengakui ada pajak pengadaan lahan, investasi persinyalan GSMR, kelistrikan, karena di sana free. Ada beberapa kondisi yang di China itu berbeda dengan Indonesia," ungkap Dwiyana.

Antara Rp 21 T atau Rp 15 T

Dalam catatan detikcom, dari dua kali asersi Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) terhitung bengkak Kereta Cepat Jakarta-Bandung US$ 1,49 miliar atau Rp 21,8 triliun (kurs Rp 15.600). Pemerintah Indonesia mengajukan angka bengkak proyek ke China sebesar itu.

Namun di sisi lain, hitungan China justru sangat jauh lebih kecil jumlahnya. Bahkan, menyentuh US$ 1 miliar pun tidak. Bulan November lalu, Dwiyana mengungkapkan hitungan pihak China, cost overrun cuma mencapai US$ 980 juta atau sekitar Rp 15,2 triliun.

"Mereka sudah sampaikan hasil perhitungan mereka sekitar US$ 980 juta (Rp 15,19 triliun). Ada perbedaan karena beda cara melakukan review, beda metode dan beda asumsi," katanya di Gedung DPR RI, Rabu (9/11/2022).

Sampai saat ini sendiri biaya kereta cepat secara keseluruhan ditetapkan sebesar US$ 6 miliar atau sekitar Rp 93,6 triliun. Jumlah itu bisa bertambah sesuai kesepakatan hitungan cost overrun yang sampai saat ini masih alot negosiasinya. Apakah kereta cepat bertambah Rp 22 triliun atau Rp 15 triliun biaya proyeknya?



Simak Video "Jokowi Sebut Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung Bukan Bantuan China"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/ang)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT