Ketegangan semakin meningkat di Iran seiring aksi demonstrasi kian panas. Aksi demonstrasi yang dipicu oleh gejolak ekonomi akibat runtuhnya nilai mata uang terus meningkat dan meluas ke berbagai wilayah usai aparat keamanan bentrok dengan pengunjuk rasa hingga menimbulkan korban jiwa.
Aksi protes kenaikan biaya hidup yang dilakukan para pedagang yang merebak sejak akhir pekan lalu kini berubah menjadi bentrokan berdarah antara pengunjuk rasa dan aparat keamanan negara kaya minyak di Timur Tengah itu.
Melansir Al Jazeera, Sabtu (3/1/2026), berikut 5 hal penting terkait demo besar-besaran di negara kaya minyak Iran:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
1. Dipicu Biaya Hidup Makin Mahal
Iran merupakan salah satu negara yang paling banyak dikenai sanksi di dunia. Hal ini membuat negara itu memiliki berbagai pembatasan internasional, secara langsung menyebabkan Teheran sulit mengakses pasar keuangan internasional dan aset asingnya dibekukan.
Pada hari Minggu pekan lalu, rial Iran jatuh menjadi 1,42 juta terhadap dolar AS. Angka ini menunjukkan penurunan nilai mata uang negara itu sebesar 56% hanya dalam enam bulan.
Anjloknya mata uang ini telah mendorong inflasi dengan harga pangan yang melonjak rata-rata 72% dibandingkan tahun lalu. Belum lagi, ketergantungan Iran pada impor memperburuk situasi dan memicu inflasi.
"Seandainya saja pemerintah, alih-alih hanya fokus pada bahan bakar, bisa menurunkan harga barang-barang lainnya," kata sopir taksi Majid Ebrahimi kepada Al Jazeera.
"Harga produk susu telah naik enam kali lipat tahun ini dan barang-barang lainnya lebih dari 10 kali lipat," terangnya lagi menceritakan tingginya harga kebutuhan hidup di Iran saat ini.
2. Aksi Protes Berskala Besar
aksi demo pertama kali terjadi saat para pemilik toko di Teheran menutup bisnis mereka pada hari Minggu (28/12) untuk memprotes krisis ekonomi Iran. Protes ini dipicu oleh melonjaknya biaya hidup setelah rial anjlok ke titik terendah sepanjang masa terhadap dolar AS pada akhir Desember kemarin.
Terlepas dari janji pemerintah untuk melakukan reformasi ekonomi dan upaya pemberantasan korupsi, aksi protes terus berlanjut. Hanya dalam beberapa hari gelombang protes terus meningkat, dengan demonstrasi ekonomi berubah menjadi protes politik seiring dengan menyebarnya keresahan di seluruh negeri.
Bermula dari protes tunggal soal runtuhnya ekonomi Iran oleh para pemilik toko di Pasar Besar Teheran kemudian menyebar ke 17 dari 31 provinsi di Iran pada Malam Tahun Baru. Dalam tahap ini, mahasiswa dan demonstran dari berbagai lapisan masyarakat bergabung.
Ribuan orang telah dimobilisasi di seluruh negeri dan pasukan keamanan merespons dengan keras di beberapa tempat. Hingga pada Kamis (1/1/2026), kantor berita semi-resmi Iran, Fars, melaporkan tiga orang tewas dalam bentrokan antara pasukan keamanan dan demonstran di Lordegan, Iran barat daya. Tiga kematian lainnya dilaporkan di Azna dan satu lagi di Kouhdasht, keduanya di Iran tengah.
"Beberapa pengunjuk rasa mulai melemparkan batu ke gedung-gedung administrasi kota, termasuk kantor gubernur provinsi, masjid, Yayasan Martir, balai kota, dan bank," lapor Fars tentang protes di Lordegan.
3. Sulit Menebak Respon Pemerintah
Tanggapan keras Teheran terhadap kerusuhan publik ditandai dengan kematian para demonstran. Meski terjadi sejumlah bentrokan terisolasi antara demonstran dan pasukan keamanan, namun sejauh ini pemerintah Iran tampak menahan diri dari tindakan keras secara terang-terangan dan terlihat siap untuk mendengarkan tuntutan para demonstran.
Dalam upaya untuk mengatasi kekhawatiran para pengunjuk rasa, pemerintah menunjuk gubernur baru bank sentral pada Rabu (31/12/2025) kemarin. Abdolnaser Hemmati selaku gubernur baru bank sentral Iran berjanji untuk memulihkan stabilitas ekonomi setelah anjloknya nilai rial secara dramatis.
Selain itu President Iran, Masoud Pezeshkian, turut menjadi pembicara pada upacara di Teheran pada Kamis (1/1) untuk memperingati pembunuhan komandan senior Korps Garda Revolusi Islam Qassem Soleimani dalam serangan pesawat tak berawak AS lima tahun lalu. Dalam kegiatan itu dirinya turut menekankan komitmen pemerintahannya terhadap reformasi ekonomi dan pemberantasan korupsi.
"Kami bertekad untuk memberantas semua bentuk pencarian rente, penyelundupan, dan penyuapan. Mereka yang mendapat keuntungan dari rente ini akan melawan dan mencoba menciptakan hambatan, tetapi kami akan terus melanjutkan jalan ini," kata Pezeshkian dalam acara tersebut.
"Kita semua harus bersatu untuk menyelesaikan masalah rakyat dan membela hak-hak kaum tertindas dan yang kurang beruntung. Melindungi mata pencaharian masyarakat adalah 'garis merah' bagi pemerintah," tegasnya.
4. Bukan Kali Pertama Iran Dilanda Demo Besar-besaran
Sebelumnya Iran juga pernah dilanda protes besar-besaran pada 2022 setelah kematian Mahsa Amini yang berusia 22 tahun saat berada dalam tahanan. Ia ditangkap pada bulan September tahun itu karena tidak mengenakan hijab dengan benar.
Demonstrasi pertama kali meletus setelah pemakaman Amini di kota Saqqez di bagian barat Iran. Saat itu para wanita merobek jilbab mereka sebagai bentuk solidaritas dengan wanita yang telah meninggal tersebut, sebelum kemudian menyebar ke sebagian besar wilayah negara itu.
Tanggapan brutal Iran terhadap kerusuhan tersebut melibatkan penangkapan sewenang-wenang terhadap puluhan ribu orang, penggunaan gas air mata secara luas, penembakan peluru tajam, dan, menurut organisasi hak asasi manusia, menimbulkan kematian ratusan orang secara tidak sah.
5. Potensi Perang Antara Iran dengan AS-Israel
Pada bulan Juni, Israel dan AS melancarkan serangan terhadap Iran selama perang 12 hari antara Iran dan Israel. Meskipun konflik itu berakhir dengan apa yang diklaim AS sebagai serangan telak terhadap fasilitas nuklir Iran, spekulasi bahwa Israel telah mempersiapkan diri untuk serangan lebih lanjut terus berlanjut.
Pekan ini, situs berita AS Axios melaporkan bahwa Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu membahas serangan lebih lanjut terhadap Iran serta kemungkinan menargetkan sekutu Teheran di Lebanon, yaitu Hizbullah.
Menanggapi hal tersebut di media sosial, Pezeshkian menulis "Balasan Republik Islam Iran terhadap setiap agresi kejam akan keras dan mengecewakan."
(igo/hns)










































