PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Energy Terminal resmi memulai atau Kick off inisiatif pengembangan Terminal LPG Tanjung Sekong menjadi World Class Green Terminal atau menciptakan terminal yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Adapun inisiatif ini menjadi bagian dari program Environment, Social & Governance (ESG) Pertamina. Inisiatif Kick Off Green Terminal ini merupakan tonggak dimulainya pelaksanaan assessment Green Terminal Label Certification (GTLC) pada 8 pilar yang menjadi syarat utama untuk memenuhi standar green terminal, dengan fokus pada penguatan pilar transisi energi.
Direktur Transformasi dan Kelanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono mengatakan, dengan inisiatif ini penggunaan genset berbasis fosil di Terminal LPG Tanjung Sekong akan digantikan dengan pemanfaatan Hydrogen yang dihasilkan dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi di Ulubelu Gunung Tiga, Lampung yang dioperasikan oleh PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGE).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Hari ini dengan adanya launching atau kick-off Green Terminal ini menunjukkan bisnis Pertamina itu adalah bisnis yang berkelanjutan, yang sustainable. Karena pertama, ini terminal untuk LPG, tapi memenuhi prinsip-prinsip dari Green Terminal. Nanti akan mendapatkan certification dari Green Terminal," ujar Agung dalam acara kick-off Media Site Visit Kick Off Green Terminal Tanjung Sekong di Cilegon, Banten, Selasa (11/2/2026).
Agung mengatakan, terminal Tanjung Sekong ini berperan vital dalam mendukung ketahanan energi nasional. Saat ini terminal tersebut berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan distribusi LPG yang memasok sekitar 40% kebutuhan LPG nasional.
"Terminal Tanjung Sekong sendiri merupakan salah satu terminal energi strategis Pertamina yang saat ini berfungsi sebagai pusat penyimpanan dan distribusi LPG yang memenuhi 40% kebutuhan LPG nasional, memegang peran vital dalam mendukung ketahanan energi," terang Agung.
Direktur Operasi Pertamina Energy Terminal Rangga Raditya menjelaskan pihaknya telah membuat atau memiliki Roadmap Green Terminal. Targetnya pelaksanaan ini dituntaskan secara bertahap hingga 2027-2028.
Rangga menjelaskan pada Februari 2025, pihaknya telah melaksanakan workshop bersama salah satu lembaga sertifikasi internasional yaitu Bureau Veritas terkait dengan inisiatif Green Terminal Label Certification (GTLC). Dalam agenda tersebut, PET sudah melakukan initial self-assessment di mana masing-masing memperoleh skor sementara, khususnya untuk Tanjung Sekong sudah memiliki skor yaitu 86%.
"Yang mencerminkan satu posisi dasar bahwa pemenuhan ini sudah bisa menjadi tonggak penting bagi kami di PET dalam menyusun rencana selanjutnya untuk perbaikan yang lebih fokus, terukur, dan terarah," kata Rangga.
Kemudian pada hari ini, dimulai dengan pelaksanaan kick-off dan proses selanjutnya akan sourcing partner untuk pelaksanaan GTLC. Lalu pada kuartal II 2206 akan dilakukan self- assessment dengan partner tersebut untuk melakukan kunjungan langsung ke masing-masing terminal, yaitu melaksanakan komparasi antara self-assessment awal dengan kunjungan langsung untuk melihat implementasi dan tingkat pemenuhan standar GTLC di setiap wilayah operasional PET.
Pada kuartal III tahun 2026, akan dilaksanakan pelaksanaan benchmarking hasil dari pemenuhan standar tersebut dengan beberapa pemegang sertifikasi GTLC yang direkomendasikan untuk lebih memperkaya referensi dan memastikan penyelarasan terhadap standar internasional.
"Selanjutnya, pada kuartal IV tahun 2026, kami akan menyusun satu roadmap lanjutan untuk pemenuhan gap berdasarkan hasil penilaian GTLC. Pelaksanaan tersebut direncanakan akan diselesaikan pada tahun 2027-2028 melalui berbagai quick-win program PET, salah satunya adalah Green Hydrogen pilot project execution," tutur Rangga
Simak juga Video: Rosan Tak Mau Proyek Gasifikasi Batubara Pengganti LPG Mangkrak Lagi











































