Adapun produksi Blok Masela sebelumnya ditargetkan mulai sebelum Pemilihan Presiden (Pilpres).
"Tahun ini sudah mulai tender dan produksinya InsyaAllah dia (Inpex) bilang 2030, saya bilang enggak. 2030 sudah Pilpres, kau bikin 2029. Aku enggak mau tahu, kau bikin 2029," kata Bahlil dalam acara Kuliah Umum yang diselenggarakan di Hotel Borobudur, Jakarta, Kamis (12/2//2205).
Bahlil menyampaikan saat ini proyek Masela sudah masuk sudah konstruksi dan saat ini proses tender tengah berjalan. Berdasarkan laporan SKK Migas, total investasi proyek tersebut mencapai sekitar US$ 18 miliar.
"Kemarin sudah dibangun konstruksinya 2025.Sekarang udah mulai tender. Kemarin SKK Migas udah laporan ke saya total investasinya US$ 18 bilion," ujarnya.
Sebelumnya, Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan groundbreaking Blok Masela sebelum lebaran. Lapangan gas abadi Masela dikelola perusahaan asal Jepang, yakni Inpex Masela Ltd.
Kepala SKK Migas, Djoko Siswanto, menjelaskan Blok Masela akan segera menerima sertifikat Amdal dari Kementerian Lingkungan Hidup.
"Mudah-mudahan ini bisa groundbreaking juga sebelum lebaran. Sekarang sedang persiapan untuk groundbreaking," ungkap Djoko dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi XII di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/2/2026).
Ia menjelaskan, Blok Masela memiliki kandungan kondensat sebanyak 35.000 barel kondensat per day. Sementara untuk kapasitas produksi gas sebesar 1.600 MMSCFD yang didistribusikan untuk lokal sebanyak 150 MMSCFD dan LNG.
"Nanti bisa berproduksi insyaallah di 2030 atau lebih cepat, investasinya hampir US$ 21 miliar. Ada kondensatnya 35.000 barel kondensat per day (BCPD). Untuk kapasitas produksi gasnya, 1.600 (MMSCFD). 150 (MMSCFD) untuk lokal, lainnya untuk LNG," pungkasnya.
Tonton juga video "BUMN Diminta Jokowi Jadi Mitra Inpex di Blok Masela"
(hrp/hns)











































