Harga Minyak Meroket 10% Usai Selat Hormuz Ditutup Iran di Tengah Perang

Harga Minyak Meroket 10% Usai Selat Hormuz Ditutup Iran di Tengah Perang

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Senin, 02 Mar 2026 08:00 WIB
A drone view of a pump jack and drilling rig south of Midland, Texas, U.S. June 11, 2025. REUTERS/Eli Hartman
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Harga minyak dunia melonjak 10% di tengah panasnya situasi Timur Tengah. Harga minyak mentah Brent melonjak di level US$ 80 per barel pada hari Minggu.

Analis memperkirakan harga minyak bisa naik hingga US$ 100 per barel setelah serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran. Mulanya harga minyak naik ke US$ 73 per barel pada Jumat, menyentuh level tertinggi sejak Juli tahun lalu seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap serangan AS ke Iran. Sehari kemudian serangan benar-benar terjadi.

Analis mengatakan penyebab naiknya harga minyak adalah penutupan Selat Hormuz yang dilakukan Iran usai serangan di negara tersebut. Penutupan selat mempengaruhi harga karena 20% minyak global diangkut melalui Selat Hormuz.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Meskipun serangan militer itu mendukung harga minyak, faktor kuncinya adalah penutupan Selat Hormuz," kata Direktur Energi Dan Penyulingan di ICIS, Ajay Parmar dikutip dari Reuters, Senin (2/3/2026).

ADVERTISEMENT

Sebagian besar pemilik kapal tanker, perusahaan minyak besar, dan perusahaan perdagangan telah menangguhkan pengiriman minyak mentah, bahan bakar, dan gas alam cair melalui Selat Hormuz. Iran sudah memperingatkan kapal-kapal agar tidak melewati jalur air tersebut.

Lebih jauh, Parmar memperkirakan harga minyak bisa meroket hingga US$ 100 per barel jika penutupan di Selat Hormuz terus dilakukan. "Kami memperkirakan harga akan dibuka jauh lebih dekat ke US$ 100 per barel dan mungkin melebihi level tersebut jika kita melihat gangguan yang berkepanjangan di Selat," kata Parmar.

Meskipun beberapa infrastruktur alternatif dapat digunakan untuk menghindari Selat Hormuz, dampak dari penutupannya akan mengakibatkan hilangnya pasokan minyak mentah sebesar 8-10 juta barel per hari karena telatnya pengiriman.

Ekonom energi Rystad Jorge Leon mengatakan pengiriman bisa dilakukan dengan mengalihkan sebagian aliran melalui pipa Timur-Barat Arab Saudi dan pipa Abu Dhabi.

(hal/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads