4 Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik Bakal Dimulai Juni, Ini Lokasinya

4 Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik Bakal Dimulai Juni, Ini Lokasinya

Retno Ayuningrum - detikFinance
Kamis, 12 Mar 2026 15:10 WIB
Sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu Bantar Gebang kian mengkhawatirkan. Tumpoukan sampah di lokasi itu kian menggunung tinggi.
Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan (Zulhas) menyampaikan empat proyek pembangkit sampah menjadi energi listrik (PSEL) atau waste to energy akan groundbreaking pada Juni mendatang. Adapun lokasinya di Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta.

Zulhas mengatakan keempat proyek tersebut saat ini sudah masuk tahap kontrak yang diumumkan oleh Danantara. Proyek ini menjadi bagian dari tahap pertama percepatan pengolahan sampah nasional.

"Sudah kontrak, sudah ada empat (proyek), yaitu Denpasar Raya, Kota Bekasi, Bogor Raya, dan Yogyakarta. Juni Insyaallah akan groundbreaking mulai pekerjaan. Nah itu tahap satu," ujar Zulhas dalam rakortas di Kantor Kemenko Pangan, Kamis (12/3/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tak hanya di empat lokasi tersebut, pemerintah juga tengah menyiapkan tahap kedua di empat belas titik PSEL. Namun, baru sepuluh lokasi yang sudah ditentukan.

ADVERTISEMENT

"Tahap dua, kita akan selesaikan kira-kira ada 14 lagi mudah-mudahan nih. Tadi kita rapat, sudah ada 10 lokasi, antara lain Lampung, Medan, Semarang, Surabaya, Tangerang, Kota Tangerang, Serang, dan tambah 3 (lokasi) Jakarta," tambah Zulhas.

Untuk merealisasikannya, pemerintah tidak bekerja sendiri. Zulhas menjelaskan pemerintah berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) hingga perguruan tinggi, seperti ITB untuk menciptakan teknologi pengolahan alat yang tepat guna.

Zulhas menegaskan langkah ini diambil karena kondisi sampah di berbagai daerah sudah masuk tahap mengkhawatirkan.

"Sampai dua tahun ini kita akan selesaikan sampah ini, tentu yang waste to energi. Kemudian perkantoran, perumahan, sekolah, pasar harus kita selesaikan di tempat. Tinggal yang menunggu mungkin lama itu di rumah-rumah tangga karena merubah peradaban itu tidak mudah," jelasnya.

(acd/acd)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads