Kementerian Keuangan Amerika Serikat (AS) menyatakan Kuba tidak diizinkan menerima pengiriman minyak mentah Rusia, meskipun sedang kekurangan bahan bakar.
Mengutip CNBC, dalam dokumen yang diterbitkan Kantor Pengawasan Aset Asing (OFAC) Kementerian Keuangan AS, Kuba masuk daftar negara yang akan diblokir dari transaksi yang melibatkan penjualan, pengiriman, atau bongkar muat minyak mentah atau produk minyak dari Rusia.
Pernyataan tersebut dikeluarkan setelah Intelijen maritim AS melacak dua kapal tanker Rusia mengangkut minyak dan gas menuju Kuba
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sebelumnya, AS telah mengizinkan sementara pembelian minyak Rusia di tengah laut, sebagai bagian dari upaya untuk menstabilkan pasar energi selama perang AS dan Israel melawan Iran.
Sementara Rusia, yang telah bersekutu dengan Kuba selama beberapa dekade, mengkritik keras blokade bahan bakar oleh pemerintahan Presiden Donal Trump. Rusia berjanji memberikan Kuba dukungan yang diperlukan, termasuk bantuan keuangan.
Wakil Menteri Luar Negeri Kuba Carlos Fernandez de Cossio menegaskan dalam konferensi pers pada Jumat (20/3/) di Havana Kuba tidak dapat dinegosiasikan.
"Sistem politik Kuba tidak dapat dinegosiasikan, dan tentu saja baik presiden maupun posisi pejabat mana pun di Kuba tidak dapat dinegosiasikan dengan Amerika Serikat," dikutip dari CNBC yang melansir laporan Reuters.
Kapal tanker berbendera Rusia, Anatoly Kolodkin yang dikenai sanksi, juga diduga sedang menuju Kuba membawa 730.000 barel minyak mentah, kata perusahaan analisis maritim Kpler pada Rabu, menurut AFP.
Pemerintahan Trump menyebut pemerintah Kuba sebagai "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa" dan mengisyaratkan bahwa AS dapat mengarahkan perhatiannya ke Kuba setelah perang Iran.
Presiden Kuba Miguel Díaz-Canel mengecam ancaman tersebut dan berjanji menghadapi langkah pemerintahan Trump memutus pasokan bahan bakar, dengan perlawanan yang tak kenal lelah.
(hns/hns)










































