Harga Minyak Anjlok Usai Trump Beri Sinyal Akhiri Perang dengan Iran

Harga Minyak Anjlok Usai Trump Beri Sinyal Akhiri Perang dengan Iran

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 24 Mar 2026 12:15 WIB
A drone view of a pump jack and drilling rig south of Midland, Texas, U.S. June 11, 2025. REUTERS/Eli Hartman
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Daftar Isi
Jakarta -

Harga minyak turun tajam pada Senin setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengisyaratkan bahwa pembicaraan dengan Iran berpotensi mengakhiri perang. Namun, Iran membantah bahwa negosiasi tersebut benar-benar terjadi.

Minyak mentah Brent sebagai acuan global turun lebih dari 7% menjadi US$ 104 per barel, setelah sempat anjlok lebih dari 13%. Sebelumnya, Brent bahkan sempat menyentuh level di atas US$ 114 per barel.

Sementara itu, WTI turun 6,9% ke US$ 91,4 per barel, setelah sebelumnya berada di kisaran US$ 100. Meski turun, harga minyak masih lebih tinggi dibanding sebelum AS dan Israel menyerang Iran pada 28 Februari.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari CNN, Selasa (24/3/2026), Trump mengatakan bahwa dalam dua hari terakhir AS dan Iran telah melakukan pembicaraan yang sangat baik untuk mencapai penyelesaian penuh konflik di Timur Tengah. Ia juga menyebut pembicaraan tersebut akan terus berlanjut sepanjang minggu ini.

Trump juga disebut telah memerintahkan penundaan semua rencana serangan militer terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari, dengan catatan bergantung pada hasil pembicaraan yang sedang berlangsung.

ADVERTISEMENT

Iran Membantah

Di sisi lain, Iran membantah adanya dialog dengan AS. Media yang berafiliasi dengan pemerintah Iran, mengutip Kementerian Luar Negeri, menyebut klaim Trump sebagai upaya untuk menekan harga energi sekaligus membeli waktu.

Perubahan sikap Trump ini terbilang drastis. Dua hari sebelumnya, ia sempat mengancam akan menghancurkan fasilitas listrik Iran jika Teheran tidak membuka kembali Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul hanya sehari setelah ia berbicara mengenai kemungkinan meredakan konflik.

Sementara itu, Korps Garda Revolusi Islam Iran menyatakan akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas listrik mereka dan menegaskan bahwa Selat Hormuz akan tetap ditutup tanpa batas waktu.

Pernyataan tersebut sempat mendorong harga minyak naik pada Minggu dan berlanjut hingga Senin, sebelum akhirnya berbalik turun. Mereka juga menegaskan bahwa jika fasilitas listrik Iran diserang, maka pihaknya akan melakukan serangan balasan.

Targetnya adalah infrastruktur energi dan komunikasi Israel, serta pembangkit listrik di negara-negara kawasan yang menjadi tuan rumah pangkalan militer AS.

(ily/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads