Pecahnya perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran menyebabkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz menjadi terhambat. Padahal, Selat Hormuz merupakan jalur vital untuk pasokan energi dunia dan pangan di kawasan Teluk.
Sekitar 20% pasokan energi dunia dipasok melalui kapal tanker dan gas alam cair (LNG) yang melintasi selat tersebut. Tak hanya itu, bagi negara-negara di kawasan Teluk, Selat Hormuz bukan sekadar rute energi melainkan jalur hidup bagi lebih dari 100 juta orang.
Dikutip dari CNN, Selasa (24/3/2026), perang yang terjadi di kawasan tersebut membuat pasokan energi hingga pasokan pangan ikut tertekan. Bertahan di iklim ekstrem kawasan ini bukan hal mudah. Dengan suhu musim panas yang bisa menembus 50 derajat Celsius dan minimnya lahan yang bisa ditanami, sebagian besar air minum negara-negara Teluk berasal dari laut melalui fasilitas desalinasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baca juga: Trump Luluh, Harga Minyak Langsung Jatuh |
Sementara itu, sebagian besar kebutuhan pangan harus diimpor dari luar negeri. Arab Saudi mengimpor lebih dari 80% kebutuhan pangannya, Uni Emirat Arab sekitar 90%, dan Qatar sekitar 98%. Bahkan Irak, meski memiliki dua sungai besar, tetap mengandalkan impor pangan yang sebagian besar masuk melalui Selat Hormuz.
Secara keseluruhan, mayoritas pengiriman makanan ke kawasan ini melewati selat tersebut yang kini praktis terhambat akibat serangan terhadap kapal-kapal komersial di wilayah itu.
Dengan jalur laut yang efektif tertutup, perusahaan pengiriman makanan kini berusaha mencari rute alternatif. Namun rute ini lebih mahal, penuh kendala logistik, dan tidak mampu sepenuhnya menggantikan arus pasokan yang hilang. Kondisi ini berpotensi mendorong kenaikan harga serta mengurangi pilihan bagi konsumen.
Bahkan Iran tetap bergantung pada Selat Hormuz untuk sebagian besar aktivitas perdagangannya. Program Pangan Dunia (WFP) memperingatkan bahwa rantai pasok global berisiko mengalami gangguan paling parah sejak pandemi Covid-19 dan pecahnya perang besar di Ukraina pada 2022.
Wakil Direktur Eksekutif WFP, Carl Skau mengatakan biaya pengiriman telah melonjak tajam. Pelaku ritel menyebut, meskipun belum ada ancaman kelaparan dalam waktu dekat di kawasan Teluk, konflik ini telah mengacaukan jalur distribusi laut.
Perusahaan ritel makanan segar berbasis UEA, Kibsons International, yang mengimpor sekitar 50.000 ton makanan per tahun dari negara seperti Afrika Selatan dan Australia, kini fokus mengalihkan rute pengiriman.
Direktur pengadaan Kibsons, Daniel Cabral, mengatakan rantai pasok saat ini berada dalam kondisi sangat menantang. Menurut UK Maritime Trade Operations (UKMTO), hampir dua lusin kapal telah diserang di kawasan tersebut sejak perang dimulai pada 28 Februari, termasuk kapal kargo di lepas pantai Oman. Kondisi ini membuat perusahaan pelayaran enggan mengambil risiko melintasi Selat Hormuz.
Masalah lain adalah banyaknya kapal yang sudah terlanjur berada di laut. Kibsons memiliki banyak kontainer berisi makanan, sebagian besar produk segar, yang kini tertahan di kapal di luar selat tanpa kepastian waktu tiba maupun pelabuhan tujuan.
(ily/ara)










































