Kenaikan harga avtur dinilai bakal membayangi kinerja industri penerbangan nasional. Ketidakpastian harga energi global, terutama akibat dinamika geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama yang mendorong naiknya beban maskapai.
Pengamat penerbangan Gatot Rahardjo menilai maskapai perlu meningkatkan kewaspadaan melalui penguatan efisiensi operasional yang adaptif dan berkelanjutan. Dia juga menekankan agar pemerintah sebagai regulator utama penerbangan juga memberikan dukungan kebijakan yang responsif.
"Efisiensi operasional memang menjadi keharusan, namun dukungan regulator juga sangat krusial agar industri tetap memiliki ruang untuk bertahan dan tumbuh. Tanpa itu, risiko tekanan lanjutan terhadap kinerja maskapai akan semakin besar," ujar Gatot dalam keterangan tertulis, Rabu (25/3/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, industri tengah berada dalam fase rentan. Sebagian maskapai masih mencatatkan kinerja keuangan yang tertekan sepanjang 2025. Kondisi tersebut berpotensi memicu efek domino apabila tekanan biaya khususnya dari avtur tidak diantisipasi secara komprehensif.
Dia juga mengingatkan agar maskapai tidak terlena dengan penyesuaian harga avtur domestik selama periode Lebaran. Mulai 1 April, harga bahan bakar diproyeksikan kembali meningkat mengikuti tren global.
Lebih lanjut, ia menilai diperlukan sinergi antara pelaku industri dan regulator, termasuk dalam menjaga keseimbangan antara keberlanjutan bisnis maskapai dan keterjangkauan tarif bagi masyarakat.
"Tanpa langkah antisipatif yang terkoordinasi, kenaikan harga avtur dikhawatirkan akan berdampak lebih luas terhadap stabilitas industri penerbangan nasional," beber Gatot.











































