Toko-toko, restoran dan kafe di Mesir diminta tutup lebih awal pukul 21.00 waktu setempat selama sebulan ke depan mulai Sabtu (28/3). Hal itu sebagai bagian dari serangkaian kebijakan sementara untuk mengatasi kenaikan harga energi imbas perang Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Dilansir dari BBC, Senin (30/3/2026), langkah antisipasi yang diperkenalkan oleh pemerintah Mesir juga mencakup pemadaman lampu jalan dan iklan di pinggir jalan. Kemudian sistem bekerja dari rumah atau work from home (WFH) selama satu hari dalam seminggu di April 2026 bagi banyak pekerja.
Meskipun sebagian besar karyawan diminta untuk bekerja dari rumah satu hari dalam seminggu, pekerja di sektor krusial seperti mereka yang bekerja di rumah sakit, sekolah dan pabrik dikecualikan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Asal tahu saja, Mesir salah satu yang terdampak konflik Timur Tengah dan blokade efektif Selat Hormuz. Harga minyak global telah meroket sejak pasokan melalui jalur tersebut hampir berhenti total.
Meski Mesir tidak terlibat di dalam perang itu, ketergantungannya pada migas impor menjadikannya rentan mengalami kelangkaan pasokan. Tidak hanya itu, ada kekhawatiran gangguan pada sektor energi akan berdampak pada harga pangan, obat-obatan serta barang kebutuhan lainnya.
Perdana Menteri Mesir Mostafa Madbouly mengatakan tagihan bensin telah meningkat lebih dari dua kali lipat menjadi US$ 2,5 miliar pada Maret 2026. Beberapa hotel di Kairo, termasuk Marriott dan Cosmopolitan telah membeli generator untuk berjaga-jaga jika terjadi pemadaman listrik.
Pemerintah Mesir telah menaikkan harga bensin dan biaya transportasi umum untuk membatasi dampak perang. Pemerintah juga akan memperlambat pembangunan proyek-proyek negara yang besar, serta memangkas tunjangan bahan bakar kendaraan pemerintah.
(aid/fdl)










































