Trump Bilang Perang Lawan Iran Berakhir 2-3 Minggu, Minyak Diprediksi Tetap Tinggi

Trump Bilang Perang Lawan Iran Berakhir 2-3 Minggu, Minyak Diprediksi Tetap Tinggi

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Kamis, 02 Apr 2026 22:00 WIB
U.S. and Iranian flags, 3D printed oil barrels and rising stock graph are seen in this illustration taken March 23, 2026. REUTERS/Dado Ruvic/Illustration
Ilustrasi minyak dunia.Foto: REUTERS/Dado Ruvic
Jakarta -

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan Amerika Serikat bersama Israel akan mengakhiri perang melawan Iran dalam kurun waktu 2-3 minggu ke depan.

Namun, gangguan pasokan minyak diperkirakan akan terus berlanjut imbas konflik di Timur Tengah itu.

Melansir CNBC, Kamis (2/4/2026), harga minyak dunia telah meroket sangat tinggi sejak AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Serangan ini memicu serangan tindakan balasan di seluruh kawasan teluk dari Teheran dan penutupan Selat Hormuz.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Penutupan Selat Hormuz, jalur logistik energi paling penting di dunia itu, mendorong lonjakan harga minyak mentah Brent global lebih dari 60% sepanjang Maret 2026 kemarin, menandai kenaikan harga bulanan terbesar sejak pencatatan dimulai pada tahun 1980-an.

ADVERTISEMENT

Namun setelah Trump mengumumkan akan segera menyelesaikan konflik di Timur Tengah, harga minyak dunia malah semakin melonjak. Harga minyak mentah Brent yang kerap jadi patokan global diperdagangkan 6,5% lebih tinggi di sekitar US$ 107,79 per barel. Sementara minyak mentah West Texas Intermediate AS naik sekitar 6% dan ditutup sedikit di atas US$ 106 per barel.

Kenaikan harga ini dipicu oleh kekhawatiran konflik tersebut akan berkepanjangan dan menyebabkan penurunan permintaan akibat harga tinggi atau pasokan yang terbatas.

Penurunan permintaan dapat mendorong konsumen untuk mengurangi konsumsi barang-barang tertentu, seperti bensin, atau mencari alternatif, seperti kendaraan listrik atau kendaraan yang lebih hemat bahan bakar.

"Jika ekspor minyak Timur Tengah tetap rendah dalam jangka waktu yang lebih lama, kami melihat potensi penurunan permintaan bensin dan solar yang signifikan akibat kenaikan harga di pasar terbesar dengan harga yang fleksibel (misalnya AS) dan pasar negara berkembang di mana harga telah naik tajam dan permintaan bahan bakar cenderung relatif sensitif terhadap harga (misalnya Afrika Selatan, Filipina, Malaysia, Vietnam)," kata analis di Goldman Sachs dalam sebuah catatan, dikutip dari CNBC, Kamis (2/4/2026)..

"Kantong-kantong penurunan permintaan yang lebih jelas telah muncul di pasar-pasar tertentu, termasuk di industri penerbangan dan petrokimia Asia," tambahnya.

Sementara itu, analis energi di TP ICAP Scott Shelton menilai dengan kondisi saat ini, total kerugian keseluruhan selama perang berlangsung hingga saat ini akan mencapai sekitar 500 juta barel minyak mentah dan produk olahan seperti solar, bahan bakar jet, dan bensin.

"Jika (perang) berakhir dalam dua hingga tiga minggu dan Selat Hormuz dibuka kembali, saya pikir kita akan memiliki cukup minyak untuk bertahan dari guncangan harga minyak ini," katanya.

"Jika Trump dapat menjamin ini berakhir dalam 2-3 minggu, saya pikir kita tidak perlu sampai pada tingkat di mana kerugian permintaan sama dengan kerugian pasokan. Meskipun demikian, bagaimana dia benar-benar mencapai hal itu sehingga pasar minyak cukup nyaman untuk tidak sampai ke sana?" sambungnya.

(igo/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads