Krisis Minyak Merembet ke Mana-mana, Pasokan Plastik-Pupuk Mulai Seret

Krisis Minyak Merembet ke Mana-mana, Pasokan Plastik-Pupuk Mulai Seret

Ilyas Fadilah - detikFinance
Senin, 06 Apr 2026 08:30 WIB
A drone view of a pump jack and drilling rig south of Midland, Texas, U.S. June 11, 2025. REUTERS/Eli Hartman
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Satu bulan sejak perang di Iran pecah, krisis energi mulai merembet ke sektor lain. Terbatasnya minyak mentah kini berubah menjadi kelangkaan berbagai barang.

Konflik di Timur Tengah mengganggu aliran minyak dan gas melalui Selat Hormuz, memangkas pasokan minyak global sekitar 20%. Dampaknya tidak hanya membuat harga energi melonjak, tetapi menekan pasokan petrokimia yang digunakan untuk memproduksi barang sehari-hari seperti sepatu, pakaian, hingga kantong plastik.

Dikutip dari CNN, Senin (5/4/2026), tekanan ini mulai terasa di tingkat konsumen. Harga plastik, karet, dan poliester naik, terutama di Asia yang menjadi pusat manufaktur dunia dan sangat bergantung pada impor energi.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Korea Selatan, warga dilaporkan panic buying kantong sampah. Pemerintah bahkan mengimbau penyelenggara acara untuk mengurangi penggunaan barang sekali pakai.

ADVERTISEMENT

Sementara itu, Taiwan membuka hotline bagi produsen yang kehabisan plastik. Sementara petani beras mulai mempertimbangkan kenaikan harga karena kesulitan mendapatkan kemasan vakum.

Di Jepang, krisis ini memicu kekhawatiran pasien gagal ginjal kronis tidak bisa menjalani perawatan karena kekurangan selang medis berbahan plastik. Di Malaysia, produsen sarung tangan memperingatkan pasokan global terancam akibat langkanya bahan turunan minyak untuk membuat lateks.

"Dampaknya sangat cepat menyebar ke berbagai sektor, dari bir, mi instan, keripik, mainan hingga kosmetik," kata Dan Martin dari Dezan Shira & Associates.

Ia menjelaskan, kelangkaan tutup botol, kemasan, hingga kontainer plastik membuat rantai produksi terganggu. Turunan minyak juga dibutuhkan untuk perekat sepatu dan furnitur, pelumas mesin, hingga bahan kimia untuk cat dan proses pembersihan.

Menurutnya, gangguan pada minyak dan pengiriman dengan cepat menjalar ke industri petrokimia dan barang konsumsi. Gejolak ini memberi tekanan tambahan pada inflasi global dan pertumbuhan ekonomi. Biaya energi dan bahan baku yang lebih tinggi mulai menekan margin produsen dan mendorong kenaikan harga ke konsumen.

Harga bahan bakar yang naik juga mengganggu sektor transportasi dan logistik. Sementara pasokan bahan lain dari Timur Tengah seperti pupuk dan helium yang ikut terganggu berpotensi membuat harga pangan dan elektronik ikut naik.

Dana Moneter Internasional (IMF) menilai efek rambatan ini terjadi saat banyak negara memiliki ruang terbatas untuk menyerap guncangan. Menurut IMF, apa pun arah konflik ke depan, dampaknya mengarah pada harga yang lebih tinggi dan pertumbuhan ekonomi yang lebih lambat.




(ily/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads