RI Bakal Punya Fasilitas Riset & Produksi Logam Tanah Jarang

RI Bakal Punya Fasilitas Riset & Produksi Logam Tanah Jarang

Heri Purnomo - detikFinance
Senin, 13 Apr 2026 22:00 WIB
Indonesia disebut memiliki 512 titik harta karun yang tersebar di tambang timah. Harta karun ini disebut-disebut mempunyai nilai investasi yang sangat besar dan dunia pun sedang berlomba-lomba mencarinya.
Logam tanah jarang atau rare earth, harta karun energi incaran dunia.Foto: Rachman_punyaFOTO
Jakarta -

Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan groundbreaking fasilitas riset dan industri logam tanah jarang (rare earth element/REE) pada 20 Mei nanti. Logam tanah jarang merupakan harta karun energi incaran dunia.

Hal ini diungkapkan Direktur Utama Timah Restu Widiyantoro dalam RDP dengan Komisi XII DPR, Senin (13/4/2026).

"Kami laporkan saat ini 20 Mei nanti akan dilakukan groundbreaking itu fasilitas riset dan industri untuk REE. Roadmap-nya untuk menuju tanggal 20 Mei nanti yang direncanakan diresmikan oleh Bapak Presiden," ujar Restu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Restu menyampaikan bahwa proyek fasilitas ini bekerja sama dengan Perminas. Di mana bahan baku REE berasal dari sisa hasil produksi timah (SHP) yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal bakal diolah menjadi produk bernilai tambah oleh Perminas.

"PT Timah mendapat tugas untuk sebagai supplier untuk bahan-bahan REE atau SHP-nya. Sisa hasil produksi dari timah itu menjadi bahan utama untuk Perminas yang nanti selanjutnya Perminas akan memproses menjadi produk-produk ikutannya," jelas Restu.

ADVERTISEMENT

Secara kasar, ia mengatakan kerja sama dengan Perminas dalam proyek ini ditargetkan dalam dua tahun ke depan sudah dimonetisasi.

Dengan begitu, proyek ini mampu memberikan kontribusi devisa bagi negara.

"Kerja sama ini diprogramkan untuk mencapai 2 tahun sudah diharapkan terjadi monetisasi. Jadi sudah bisa menghasilkan produk yang bisa mendapatkan devisa untuk negara. Kira-kira seperti itu, belum bisa kami laporkan secara detail karena memang program ini baru dimulai sekitar 1,5 atau 2 bulan yang lalu sehingga masih dalam kajian oleh PT Timah dan Perminas," terang Restu.

(hrp/hns)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads