Presiden Prabowo Subianto meminta jajarannya untuk mempercepat pembangunan jaringan rel kereta api di berbagai wilayah Indonesia. Hal ini guna memperkuat konektivitas nasional sekaligus meningkatkan peran kereta dalam transportasi logistik.
Saat ini Indonesia memiliki sekitar 7.000 kilometer jalur rel kereta, namun mayoritas hanya di Pulau Jawa.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyampaikan pemerintah sedang menyusun master plan pengembangan jaringan kereta Trans Sumatera, Trans Kalimantan, dan Trans Sulawesi. Master plan yang dimaksud meliputi pembangunan dan reaktivasi rel kereta yang sudah tidak aktif hingga mencapai 14.000 kilometer dalam beberapa puluh tahun ke depan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sesuai arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto, di mana kita harus membangun dan atau melakukan reaktivasi terhadap rel-rel kereta yang sudah ada tapi pasif selama ini hingga 14.000 kilometer dalam sekian puluh tahun ke depan," ujar AHY dalam acara Indonesia Zero Emission Heavy-Duty Vehicle (IZEHDV) Summit 2026 di Jakarta, Kamis (23/7/2026).
AHY mengatakan dalam rencana pengembangan rel kereta ini, Indonesia akan mencontoh Jepang. Jepang dijadikan contoh karena punya karakteristik kontur yang sama dengan Indonesia, terlebih Jepang bisa membangun jaringan kereta yang luas.
"Kalau kita menggunakan benchmark Jepang misalnya, sebagai salah satu negara yang memiliki kontur dan karakteristik mirip dengan Indonesia, sama-sama punya 14.000 atau lebih 13.000 pulau, tapi mereka mengembangkan kereta dengan begitu luas jaringannya sampai dengan bisa digunakan oleh masyarakat di pulau-pulau utama mereka," katanya.
"Dan kita juga harapkan bisa, kita berharap kita bisa mengembangkan itu sehingga jalur logistik ini bisa lebih terpenuhi," sambungnya.
Menurut AHY dengan pengembangan jaringan kereta itu bisa mengurangi emisi karbon hingga 4,2 juta ton CO2. Selain itu juga bisa mengalihkan sebagian angkutan logistik dari jalan raya ke moda perkeretaapian yang bisa mengurangi kepadatan di jalan raya.
"Dan dengan mengembangkan kereta, kita bisa mengurangi 4,2 juta ton CO2. Selain itu, kita juga bisa mengurangi penggunaan jalan raya bagi transportasi logistik. Ini penting untuk kita kawal bersama-sama," bebernya.
(hrp/fdl)









































