Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan pemerintah telah mengatur pembagian gas untuk kebutuhan dalam negeri dan luar negeri.
Dengan begitu, Bahlil menegaskan tahun ini Indonesia tidak akan ada defisit gas. Di sisi lain, saat ini sekitar 28% sampai 30% hasil produksi gas Indonesia dijual ke luar negeri.
Ekspor masih berjalan karena sejak awal proyek gas sudah memiliki pembeli tetap sehingga harus tetap dipenuhi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Alokasi untuk konsumsi dalam negeri di tahun 2026 itu sudah clear. Termasuk dengan komitmen kita terhadap market kita di luar negeri, sekitar kurang lebih sekitar 28 sampai 30% total produksi gas kita itu memang kita ekspor untuk memenuhi komitmen dengan pasar luar negeri," ujar Bahlil di Kantor Kementerian ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026).
Bahlil mengatakan alokasi gas tahun ini lebih baik dibandingkan tahun lalu.
Tahun lalu Indonesia sempat kekurangan gas sekitar 40 sampai 50 kargo LNG, sehingga pasokan dalam negeri sempat terganggu.
"Enggak seperti tahun 2025 yang memang waktu itu kita defisit kurang lebih sekitar 40 sampai 50 kargo. Sekarang sudah kita clearkan semuanya dan kita memenuhi kewajiban kita baik kepada dalam negeri maupun offtaker di luar negeri. Enggak ada defisit," katanya.
Bahlil menambahkan jika nanti permintaan gas semakin tinggi karena perekonomian Indonesia membaik, pemerintah akan berusaha mencari cara untuk mendapatkan pasokan tersebut.
"Kalau penambahan lagi, kita cari akal lagi. Memang kita hidup ini harus butuh akal banyak agar menyelesaikan," janji Bahlil.
Simak Video 'Bahlil Ingatkan Orang Kaya Jangan Beli BBM Subsidi: Apa Nggak Malu?':
(hrp/hns)










































