Bahlil Buka-bukaan Rencana Bikin Gas Pengganti LPG, Bakal Disubsidi?

Bahlil Buka-bukaan Rencana Bikin Gas Pengganti LPG, Bakal Disubsidi?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Selasa, 05 Mei 2026 16:00 WIB
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memberikan keterangan pers di gedung ESDM, Jakarta, Senin (20/4/2026) terkait penemuan blok gas terbesar di Kutai, Kalimantan Timur. Pengumuman tersebut turut dihadiri oleh para pejabat E
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia/Foto: Ari Saputra/detikFoto
Jakarta -

Pemerintah berencana mengembangkan energi gas pengganti LPG bagi masyarakat. Hal tersebut merupakan pengembangan gas alam CNG dalam tabung 3 kg agar mudah digunakan oleh masyarakat.

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan CNG sudah banyak digunakan di hotel, restoran, dan kafe. Namun, bentuknya masih dalam tabung besar 10-20 kg.

"Kita merumuskan untuk mencari alternatif lain. CNG adalah salah satu alternatifnya. Nah CNG ini kan sudah dipakai oleh hotel, restoran, MBG, sudah ada, tapi pada klasifikasi yang 20 kilogram ke atas, ada yang 10-10 kilogram ke atas," ujar Bahlil usai rapat bersama Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Selasa (5/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Untuk CNG dalam tabung 3 kg, Bahlil bilang sampai saat ini masih diuji coba karena tekanan CNG cukup besar untuk digunakan. Modifikasi CNG dalam tabung 3 kg akan rampung dalam dua atau tiga bulan ke depan.

"Nah, untuk yang 3 kilo memang tabungnya masih dilakukan uji coba karena tekanannya kan besar sekali, dia sekitar 200 sampai 250 bar. Nah ini yang kita akan mencoba untuk modifikasi. Insyaallah 2-3 bulan ini kita akan dapat hasilnya," ujar Bahlil.

ADVERTISEMENT

Konversi Bertahap

Apabila pengembangan sudah selesai dilakukan, Bahlil bilang konversi gas LPG menjadi CNG akan dilakukan bertahap. Dia percaya diri proyek ini akan berjalan mulus, sebab Indonesia memiliki pasokan CNG besar.

"Kemudian kalau itu sudah dinyatakan firm, kita akan melakukan konversi. Sebab apa? CNG ini bahan bakunya ada semua di kita. C1, C2 gas," beber Bahlil.

Penemuan raksasa gas alam di Kalimantan Timur juga akan menambah pasokan CNG di Indonesia. Kemungkinan, hasil penemuan itu akan dialokasikan sepenuhnya untuk kebutuhan dalam negeri.

"Apalagi kita kan baru menemukan gas sekitar 3.000 MM di Kalimantan Timur. Nah ini sebagian besar kita bisa alokasikan untuk kebutuhan dalam negeri untuk meng-cover CNG ya," jelas Bahlil.

CNG Disubsidi?

Yang jadi pertanyaan, apakah gas CNG 3 kg akan disubsidi seperti LPG 3 kg? Menurut Bahlil untuk urusan subsidi semua masih dikaji pemerintah. Namun, menurut pandangannya, kemungkinan besar subsidi masih akan diberikan untuk CNG. Opsinya subsidi bisa jadi diberikan dalam volume yang terbatas.

"Semuanya lagi dikaji. Opsinya subsidi masih haruslah. Tinggal volumenya seperti apa yang kita perlu baca ya," ujar Bahlil.

Yang jelas, Bahlil mengatakan CNG akan jauh lebih murah harganya daripada LPG bahkan tanpa subsidi sekalipun. Harga CNG, menurutnya bisa jauh lebih murah 30% daripada LPG.

"Kenapa dia lebih murah? Karena yang pertama gasnya itu ada di kita dan industrinya kan ada di kita, di dalam negeri. Jadi tidak kita melakukan impor. Cost transportasinya aja udah bisa meng-cover," kata Bahlil.

CNG buat Tekan Impor LPG

Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai Golkar, Jamaludin Malik mendukung langkah Bahlil yang tengah mengkaji pengembangan CNG dalam kemasan setara 3 kilogram (kg) sebagai alternatif LPG subsidi. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis dalam memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mengurangi ketergantungan impor LPG.

Jamaludin menilai, pengembangan CNG merupakan bagian dari upaya optimalisasi pemanfaatan gas domestik yang melimpah di berbagai wilayah Indonesia. Potensi gas nasional, khususnya di Sumatera dan Kalimantan, perlu diarahkan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri secara lebih maksimal.

"Langkah Menteri ESDM ini patut diapresiasi sebagai bagian dari strategi transisi energi nasional. CNG dapat menjadi solusi konkret untuk menekan impor LPG sekaligus memperkuat ketahanan energi," ujar Jamaludin dalam keterangan tertulis.

Ia menambahkan, selama ini beban subsidi LPG dalam APBN cukup besar akibat tingginya volume impor. Oleh karena itu, kehadiran alternatif seperti CNG dinilai dapat membuka ruang efisiensi anggaran sekaligus mendorong pemanfaatan energi berbasis domestik.

Jamaludin menegaskan bahwa pengembangan CNG tidak boleh berhenti pada skema tabung 3 kg semata. Ia mendorong agar pemerintah memperluas pemanfaatan CNG ke berbagai sektor strategis seperti transportasi, perhotelan, kawasan perumahan, apartemen, dan sektor komersial lainnya.

"Perluasan pemanfaatan ini penting untuk menciptakan skala ekonomi yang kuat, sehingga penggunaan gas domestik dapat berjalan optimal dan berkelanjutan," tegas legislator asal daerah pemilihan Jawa Tengah II itu.

Menurutnya, langkah tersebut harus diiringi dengan percepatan pembangunan infrastruktur pendukung, mulai dari stasiun pengisian CNG, fasilitas kompresi, hingga sistem distribusi yang terintegrasi. Ketersediaan infrastruktur menjadi faktor kunci dalam keberhasilan implementasi kebijakan ini.

Sebagai penutup, Jamaludin menegaskan bahwa Komisi XII DPR RI akan terus mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Ia berharap pengembangan dan perluasan pemanfaatan CNG dapat menjadi solusi jangka panjang dalam membangun sistem energi yang efisien, berdaulat, dan berkelanjutan.

Tonton juga video "Bahlil soal RI Beli Minyak ke Rusia: Boleh Belanja di Mana Saja"

Halaman 2 dari 3
(hal/ara)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads