Industri Elektronik Sampai EV Terus Tumbuh, Bisa Dongkrak Produksi Tembaga RI

Industri Elektronik Sampai EV Terus Tumbuh, Bisa Dongkrak Produksi Tembaga RI

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 12 Mei 2026 15:36 WIB
Kendaraan listrik melintas di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta (20/4/2026). Pemprov DKI menyiapkan kebijakan baru menyusul aturan pajak kendaraan listrik dari pemerintah pusat.
Foto: Mohammad Farrel/detikFoto
Jakarta -

Hilirisasi mineral terus dikembangkan dan menjadi salah satu program unggulan pemerintah. Sebab, selain berkontribusi langsung terhadap penerimaan negara, pengembangan industri hilir tambang ini dapat menciptakan multiplier effect lebih luas terhadap perekonomian nasional.

Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (Pushep), Bisman Bakhtiar, mengatakan hingga saat ini komoditas mineral yang sukses dalam menjalankan proyek hilirisasi adalah nikel dan tembaga.

"Tembaga kan Freeport baru membuka smelter di Gresik yang itu nanti juga memberi nilai tambah yang tinggi. Termasuk juga tambang-tambang komoditas lain," kata Bisman kepada detikcom, Selasa (12/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meski begitu, ia mengatakan program hilirisasi ini seharusnya tidak berhenti hanya sampai pengolahan produk setengah jadi, melainkan berlanjut hingga industri akhir. Misalnya, pengembangan industri elektronik, baterai, hingga mobil listrik yang selama ini terus tumbuh sebagai produk akhir dari nikel dan tembaga.

Dengan begitu, produk hasil tambang tidak hanya dijual dalam bentuk bahan mentah, tetapi sudah dalam bentuk produk akhir untuk konsumen. Hal ini juga akan mendorong peningkatan produksi serta penyerapan hasil tambang di dalam negeri.

ADVERTISEMENT

"Kalau nikel ya harus sampai ke bagaimana produksi baterai mobil listrik, bagaimana industri tentang EV atau electric vehicle. Tembaga bagaimana dia bisa membuat industri elektronik dan sebagainya," ujar Bisman.

"Ada smelter tembaga di Gresik itu perlu didukung pengembangan industri hilir seperti kabel, komponen listrik, dan kendaraan listrik agar penyerapan tembaga domestik meningkat," sambungnya.

Menurutnya, hal ini menjadi penting untuk menciptakan multiplier effect atau efek pengganda, mulai dari penyerapan tenaga kerja hingga menjadi stimulus bagi industri lain di sekitar pabrik atau smelter.

"Itu nanti mampu menciptakan multiplier effect atau efek pengganda, yaitu tumbuhnya perekonomian karena banyak pabrik, banyak industri, dan itu nanti akan membutuhkan tenaga kerja yang luar biasa. Nah, itulah sebenarnya yang diharapkan dari tambang," jelasnya.

Untuk diketahui, saat ini industri tembaga nasional didominasi oleh sejumlah perusahaan tambang besar dengan proyek strategis. Salah satunya adalah PT Freeport Indonesia (PTFI), baik dari produksi mineral hasil penambangan hingga pengolahan di smelter.

Dari sektor tambang, saat ini Freeport dapat memproduksi konsentrat sekitar 3,2 juta ton per tahun. Dari konsentrat ini dihasilkan kurang lebih 900 ribu ton tembaga dan 50-60 ton emas.

Dalam Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026 Freeport yang telah disampaikan ke Kementerian ESDM pada pertengahan November 2025 lalu, proyeksi produksi tembaga perusahaan berada di kisaran 478 ribu ton.

Bersamaan dengan itu, perusahaan turut memproyeksikan harga tembaga pada 2026 dapat mencapai US$ 4,75 per pound, jauh di atas asumsi RKAB sebelumnya sebesar US$ 3,75. Harga emas diperkirakan menembus US$ 4.000 per ounce, melonjak dari asumsi awal US$ 1.900.

Di luar itu, secara keseluruhan penerimaan negara dari Freeport tahun ini diproyeksikan sebesar US$ 2,7 miliar. Namun, dalam revisi terbaru, penerimaan negara diperkirakan meningkat menjadi US$ 2,9 miliar berkat kenaikan harga tembaga dan emas.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads