China-Eropa Ikut Antre Garap Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik

China-Eropa Ikut Antre Garap Proyek Sulap Sampah Jadi Listrik

Ilyas Fadilah - detikFinance
Selasa, 26 Mei 2026 12:35 WIB
Petugas beraktivitas di fasilitas Refuse Derived Fuel (RDF) Rorotan, Jakarta Utara, Kamis (9/4/2026).
Ilustrasi pengolahan sampah. Foto: Pradita Utama/detikFoto
Jakarta -

Chief Investment Officer (CIO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara) Pandu Patria Sjahrir mengungkap tingginya minat investor swasta terhadap proyek waste to energy (WTE) atau sulap sampah menjadi energi di Indonesia.

Jumlah peserta lelang proyek tahap kedua melonjak hingga empat kali lipat dibanding tahap pertama. Pada fase pertama terdapat 24 perusahaan yang mengikuti proses bidding setelah diseleksi dari ratusan peminat. Sementara pada fase kedua, jumlah peserta meningkat menjadi 85 konsorsium untuk 10 lokasi proyek yang ditawarkan.

"Jadi dari 100-200 something yang mencoba, 24 kita pilih. Untuk fase dua ini, kita punya 85 konsorsium yang bid untuk 10 lokasi yang ada yang sudah kita sharing. Jadi sudah 4 kali lipat, naik dari sisi demand," jelas Pandu dalam Investor Daily Round Table di Jakarta, Selasa (26/5/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurutnya, tingginya minat investor menunjukkan sektor swasta masih melihat proyek infrastruktur energi di Indonesia sebagai peluang menarik. Apalagi proyek WTE memiliki total nilai investasi mencapai US$ 5 miliar atau setara Rp 89 triliun (kurs Rp 17.800).

ADVERTISEMENT

Dia menambahkan, investor yang ikut tidak hanya berasal dari Indonesia maupun China. Sejumlah perusahaan dari Korea Selatan, Jepang, Eropa, Timur Tengah hingga Singapura juga ikut berpartisipasi dalam proses bidding proyek tersebut.

"All of it private sector. Dan tidak hanya dari Indonesia, tidak juga hanya dari China. Ada dari Korea, Jepang, dari Eropa, Middle East, Singapura," ungkap Pandu.

Lebih lanjut, dia memastikan keterlibatan swasta akan terus menjadi bagian penting dalam pengembangan proyek WTE ke depan.

"Dan WTE ini kan it's a US$ 5 billion project total. Di mana private sector participation akan selalu ada, baik dari equity holder, dan yang lain-lain," tutupnya menjelaskan.

(ily/hal)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads