×
Ad

Proyek Bioetanol 60 Ribu Liter di Lampung Dikebut

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 10 Jun 2026 14:43 WIB
Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu/Foto: Dok. Kementerian Investasi/BKPM
Jakarta -

Pemerintah mempercepat pengembangan industri bioetanol untuk memperkuat ketahanan energi, salah satunya pengembangan bioetanol terintegrasi di Lampung. Lampung dipilih sebagai lokasi awal pengembangan karena memiliki keunggulan dari sisi bahan baku maupun dukungan infrastruktur dan memiliki posisi geografis yang strategis.

Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi/Wakil Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Todotua Pasaribu telah melakukan kunjungan lapangan ke Lampung. Hadir juga perwakilan PT Pertamina New and Renewable Energy (PNRE) dan PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN).

"Selain itu, posisinya sangat strategis karena dapat memasok kebutuhan Sumatera dan sebagian Jawa yang merupakan pusat konsumsi energi terbesar di Indonesia. Karena itu, kami menetapkan Lampung sebagai lokasi awal pengembangan ekosistem bioetanol nasional," tegas Todotua dalam keterangan tertulis, Rabu (10/6/2026).

Dalam kunjungan lapangan ke Kecamatan Tegineneng, Kabupaten Pesawaran dan Desa Rejosari, Kabupaten Lampung Selatan, rombongan meninjau kesiapan lokasi yang diproyeksikan menjadi kawasan pengembangan bioetanol terintegrasi.

Hasil peninjauan menunjukkan bahwa Lampung memiliki potensi bahan baku yang kuat, baik berupa molases tebu, sorgum, maupun limbah biomassa yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan bioetanol generasi pertama dan generasi kedua (second generation bioethanol).

Todotua menambahkan, proyek ini membuka peluang kemitraan antara industri dan petani lokal melalui pengembangan budi daya sorgum sebagai sumber bahan baku tambahan. Pemerintah Provinsi Lampung menyatakan dukungan penuh terhadap pengembangan proyek ini.

Proyek bioetanol yang direncanakan di Provinsi Lampung akan menggunakan konsep multi-feedstock dengan memanfaatkan berbagai bahan baku seperti molases, sorgum, dan limbah biomassa.Pada tahap awal, proyek percontohan direncanakan mencakup penanaman sorgum varietas Enryu seluas 10 hektare (ha) dan pembangunan fasilitas bioetanol berkapasitas 60 KL/tahun.

Tahap komersial meliputi penanaman sorgum varietas Enryu seluas 6.000 ha di Lampung serta pembangunan pabrik bioetanol berkapasitas 60.000 KL/tahun yang ditargetkan dimulai pada kuartal III-2027 dan mulai beroperasi pada kuartal IV-2028.

Sebagai tindak lanjut dari deklarasi bersama dan kunjungan lapangan tersebut, para pihak akan mempercepat pelaksanaan studi kelayakan (joint feasibility study), penyusunan perencanaan proyek, pengembangan budidaya sorgum percontohan, serta finalisasi skema pembiayaan dan kemitraan strategis guna memastikan kesiapan implementasi proyek secara menyeluruh.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Joint Declaration bertajuk Collaboration in Establishing Bioethanol Ecosystem Development in Lampung Province oleh Pemerintah Provinsi Lampung, PNRE, TMMIN, dan PT Toyota Tsusho Indonesia (TTI). Deklarasi ini menjadi landasan kolaborasi para pihak dalam pengembangan rantai pasok bahan baku, pembangunan fasilitas produksi bioetanol, penguatan kemitraan dengan sektor pertanian, pengembangan teknologi, serta percepatan realisasi investasi guna mendukung ketahanan energi nasional.

Lihat juga Video: Pertamina Mau Nyontek Brasil dalam Pengembangan Etanol




(ily/ara)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork