Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (ASAKI) berharap pemerintah kembali meningkatkan porsi alokasi Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) menjadi 70-80% untuk memperkuat daya saing industri nasional. Adapun permintaan itu disampaikan setelah pemerintah menurunkan harga regasifikasi LNG industri menjadi US$ 13 per MMBTU dan menaikkan alokasi HGBT menjadi 50%.
Ketua Umum ASAKI Edy Suyanto menganggap langkah itu penting untuk memperkuat resiliensi industri nasional di tengah ketatnya persaingan regional dan derasnya arus produk impor, terutama dari China dan India.
Selain berpotensi menyelamatkan industri dari ancaman PHK, ASAKI menilai kebijakan ini juga akan memberikan efek berganda atau multiplier effect bagi perekonomian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dengan membaiknya kepastian pasokan gas dan iklim usaha, industri keramik nasional optimistis dapat melanjutkan rencana ekspansi pada periode 2025-2029 yang mencakup tambahan kapasitas produksi sekitar 80 juta meter persegi, nilai investasi mencapai Rp 12 triliun, serta potensi penyerapan sekitar 6.000 tenaga kerja baru.
Pelaku industri berharap kebijakan energi yang lebih kompetitif dapat menjadi momentum untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat posisi industri keramik Indonesia di pasar domestik maupun internasional.
Di satu sisi, ia menyampaikan apresiasi terhadap langkah pemerintah menurunkan harga regasifikasi LNG menjadi US$13 per MMBTU.
"Kami menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya kepada pemerintah atas perhatian dan langkah cepat yang telah diambil. Kebijakan ini memberikan kepastian bagi dunia usaha, menjaga daya saing industri nasional, serta melindungi keberlangsungan lapangan kerja," kata Edy dalam keterangan resmi, Selasa (30/6/2026).
Menurut ASAKI, kebijakan ini mampu mengurangi tekanan biaya energi yang selama ini menjadi salah satu tantangan terbesar industri keramik nasional. Sebelumnya, biaya energi gas tercatat mencapai sekitar 50% dari total biaya produksi keramik.
Dengan penyesuaian kebijakan tersebut, rata-rata biaya gas industri keramik diperkirakan turun menjadi sekitar US$ 9,5-10 per MMBTU, atau setara sekitar 38%-40% dari total biaya produksi.
Penurunan biaya ini dinilai penting karena dapat membantu industri menjaga keberlanjutan operasional sekaligus menekan risiko pengurangan tenaga kerja.
Simak juga Video 'Harga Gas Industri Naik, 55 Ribu Buruh Akan Kena PHK':
(acd/acd)










































