Iran mengancam akan menghentikan semua ekspor energi dari Timur Tengah seiring memanasnya konflik bersenjata melawan Amerika Serikat (AS). Ancaman ini dikeluarkan sebagai bentuk perlawanan terhadap AS yang memberlakukan kembali blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengancam akan terus menyerang semua fasilitas Iran yang terkait dengan program pengembangan nuklir. Selain itu ia juga mengaku sedang mempertimbangkan untuk memperluas serangan AS lebih lanjut minggu depan.
Melansir The Guardian, Jumat (17/7/2026), blokade terhadap pelabuhan dan kapal-kapal Iran mulai diberlakukan AS pada Rabu (15/7) pagi kemarin. Aksi blokade ini diikuti dengan serangkaian serangan selama 90 menit terhadap sistem pertahanan pantai dan fasilitas rudal Iran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, otoritas Iran mengatakan serangan AS yang berlangsung tepat sehari sebelumnya telah menewaskan sedikitnya tujuh tentara, dan melukai lebih dari 300 warga sipil. Ini merupakan jumlah korban tertinggi dari setiap putaran konflik kedua negara baru-baru ini.
Terkait serangan pada Rabu pagi itu, Juru Bicara Pemerintah Iran, Fatemeh Mohajerani, mengatakan sedikitnya 30 warga sipil telah tewas akibat penyerbuan AS di Iran selatan dalam beberapa hari terakhir.
Tak tinggal diam, serangan dan blokade AS ini kemudian mendorong Iran untuk kembali menutup Selat Hormuz dan melakukan serangkaian serangan udara balasan terhadap negara-negara di kawasan Timur Tengah yang menampung pangkalan dan fasilitas militer Paman Sam.
"Ekspor energi regional bisa dinikmati untuk semua atau dilarang untuk siapapun," kata Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) dalam sebuah pernyataan pada Rabu (15/7).
Iran menambahkan Selat Hormuz akan tetap ditutup hingga AS mengakhiri semua serangan. Kondisi ini tentu akan kembali mengganggu pengiriman minyak mentah dan gas di jalur air yang merupakan titik penting bagi 20% pasokan energi dunia.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, menambahkan blokade AS ini telah melanggar memorandum Islamabad, kesepakatan sementara yang dimaksudkan untuk menjaga kawasan selat tetap terbuka dan memberikan ruang untuk negosiasi menuju perdamaian permanen.
Pada akhirnya, memanasnya konflik dan gangguan terhadap pengiriman energi dari Timur Tengah ini kembali mendorong kenaikan harga minyak dunia. Di mana harga minyak mentah pada Rabu kemarin terus naik melewati level tertinggi dalam sebulan terakhir.
(igo/fdl)









































