Iran Ancam Tutup Laut Merah, Jalur Minyak Dunia Makin Tercekik

Iran Ancam Tutup Laut Merah, Jalur Minyak Dunia Makin Tercekik

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 17 Jul 2026 13:13 WIB
FILE PHOTO: Boats float near the coast of Bab el-Mandeb, Yemen April 2, 2026. REUTERS/File Photo
Foto: REUTERS/Reuters
Jakarta -

Ancaman terhadap pasokan energi global terus meningkat. Setelah menutup kembali Selat Hormuz, Teheran dilaporkan telah meminta kelompok Houthi di Yaman untuk bersiap menutup jalur pelayaran minyak di Laut Merah jika sewaktu-waktu Amerika Serikat (AS) menyerang infrastruktur listrik Iran.

Melansir Reuters, Jumat (17/7/2026), tiga sumber internal yang berbicara dengan syarat anonim mengatakan jika permintaan penutupan Laut merah itu telah diterima Houthi baru-baru ini. Artinya langkah yang berpotensi melumpuhkan dua jalur ekspor minyak terpenting dunia itu bisa saja terjadi.

Namun tiga sumber itu tidak memberikan informasi lebih lanjut tentang bagaimana pesan itu disampaikan atau apakah rencana penutupan Laut Merah dilakukan setelah Presiden AS Donald Trump mengancam untuk menyerang infrastruktur listrik Iran pada Selasa (14/7) kemarin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Masalahnya, sumber yang dekat dengan kelompok Houthi mengatakan kelompok tersebut telah menyelesaikan persiapan untuk menyerang pelayaran internasional. Bahkan mereka telah menempatkan rudal dan drone di sekitar Selat Bab el-Mandeb yang adalah pintu masuk menuju Laut Merah.

Sumber tersebut juga mengatakan jika Houthi kini hanya menunggu perintah untuk memulai operasi pemblokiran jalur energi lain di Timur Tengah itu. Di mana keputusan mengenai kapan Selat Bab el-Mandeb akan ditutup berada di tangan perwakilan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) yang telah berada di Yaman.

ADVERTISEMENT

Sebagai tanda meningkatnya ketegangan di kawasan itu, bahkan kelompok itu sudah menembakkan rudal ke Arab Saudi dengan tuduhan jika kerajaan itu membom bandara yang berada di bawah kendali mereka pada Senin (14/7) kemarin. Sebab menurut Houthi, serangan yang diduga dari Arab Saudi itu telah melanggar gencatan senjata mereka yang sudah terjalin selama empat tahun terakhir.

Pasokan Energi Dunia Makin Terancam

Analis utama urusan Timur Tengah di perusahaan intelijen risiko Verisk Maplecroft, Torbjorn Solvedt, mengatakan peningkatan ketegangan antara Houthi dan Arab Saudi terjadi pada waktu yang buruk. Sebab jika konflik bersenjata benar terjadi, sejumlah fasilitas energi dapat terganggu.

"Jika pertempuran meningkat dan meluas ke infrastruktur ekspor dan pelayaran Laut Merah, itu akan mengancam satu-satunya jalur alternatif utama untuk ekspor minyak dari kawasan tersebut," kata Solvedt.

Masalahnya sejak penutupan Selat Hormuz imbas perang AS melawan Iran, sebagian besar minyak yang berasal dari kawasan Teluk telah dialihkan ke Laut Merah melalui pipa Arab Saudi. Sehingga kini jalur air tersebut membawa sekitar 7% pasokan energi global.

Belum lagi, Arab Saudi, yang juga salah satu produsen minyak dunia telah mengalihkan 70% ekspor energinya melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah. Membuat serangan langsung di area tersebut akan menjadi masalah besar bagi pasar minyak dunia.

Salah satu sumber regional mengatakan upaya untuk menutup Selat Bab el-Mandeb di Laut Merah tidak akan sulit karena siapapun bisa melakukannya meski hanya bermodalkan senjata api sederhana.

"Siapa pun dengan senapan dapat mengganggu pelayaran. Anda tidak perlu memiliki rudal canggih untuk mengganggu pelayaran," ucap sumber itu.

(igo/fdl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads