Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia merespons penilaian Presiden Prabowo Subianto yang menyebut kinerjanya memuaskan. Bahlil menegaskan penilaian terhadap para menteri sepenuhnya merupakan kewenangan Presiden.
"Ya, terkait dengan skor, itu kan yang mempunyai kewenangan progresif untuk menilai semua anggota kabinetnya adalah Bapak Presiden. Jadi saya nggak boleh mengomentari apapun dari apa yang diberikan," ujar Bahlil usai acara peluncuran dan bedah buku 10 Karya Nyata untuk Negeri: Setengah Abad Bahlil Lahadalia di Djakarta Theatre, Jumat (7/8/2026).
Bahlil mengatakan menerima setiap penilaian yang diberikan presiden. Menurutnya, selama ini ia terbiasa menghadapi keraguan atau penilaian yang meremehkannya, namun selalu berusaha menjawabnya melalui kerja dan pencapaian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya memang dari dulu hidupnya sudah seperti itu. Ya, di-underestimate orang, saya harus terima. Tapi kita harus menjawab itu dengan prestasi, kita harus menjawab itu dengan kerja keras, kita harus menjawab itu dengan kerja tanpa menyerah untuk kebaikan rakyat, bangsa, dan negara," jelas dia.
Sebelumnya, Prabowo meminta Bahlil terus mengabdi dan memanfaatkan pengalaman yang telah diperoleh selama menjabat sebagai menteri. Menurutnya, hingga saat ini kinerja Bahlil layak mendapat rapor memuaskan.
"Pak Bahlil teruskan pengabdianmu dengan sebaik-baiknya. Ambil manfaat dari apa yang sudah kau pelajari. Saya terus menilai pekerjaan beliau, dan saya menilai sampai sekarang beliau harus saya kasih rapor memuaskan," kata Prabowo.
Padahal, Prabowo mengaku dirinya termasuk sosok yang sulit memberikan nilai tinggi. Ia kemudian berkelakar bahwa nilai sempurna hanya dimiliki Tuhan, sementara nilai-nilai tinggi lainnya diberikan ke lembaga-lembaga negara.
"Orang-orang yang bekerja sama saya lama tahu bahwa saya ini termasuk susah kasih nilai. Karena 100 milik yang maha kuasa 99 dimiliki oleh MPR RI. 98 dimiliki oleh Presiden Indonesia, 97 dimiliki oleh DPR. Jadi kalau dapat nilai 91, 92 sudah tinggi itu," tutur Bahlil.
(ily/hns)









































