Harga Minyak Dunia Sudah Tembus US$ 108 per Barel!

Harga Minyak Dunia Sudah Tembus US$ 108 per Barel!

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 11 Sep 2026 07:47 WIB
A drone view of a pump jack and drilling rig south of Midland, Texas, U.S. June 11, 2025. REUTERS/Eli Hartman
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Memanasnya perang antara Amerika Serikat (AS) dengan Iran membuat harga minyak dunia melonjak pada perdagangan Kamis (10/9) hingga tembus US$ 108 per barel. Ini merupakan pertama kalinya harga minyak dunia setinggi ini sejak Mei 2026.

Harga minyak sudah naik lagi di atas US$ 100 per barel minggu ini seiring dengan meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

Kondisi ini membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga komoditas energi yang satu ini terkerek.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sampai dengan perdagangan Kamis (10/9), minyak mentah Brent yang kerap menjadi patokan global naik hingga 7,1% mencapai US$ 108 per barel sebelum ditutup pada level US$ 107,63 per barel (naik 6,34%) pada hari itu. Ini adalah level penutupan tertinggi Brent sejak 19 Mei dan lonjakan satu hari terbesar dalam enam minggu terakhir.

ADVERTISEMENT

Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) juga sempat naik hingga 7,3% dan mencapai US$ 103 per barel, sebelum akhirnya sedikit turun dan menetap di US$ 102,48 (naik 6,69%) pada akhir perdagangan hari itu. Ini adalah level penutupan tertinggi WTI sejak 19 Mei dan lonjakan satu hari terbesar dalam dua bulan terakhir.

"Meningkatnya serangan di Selat Hormuz dan oleh Houthi terhadap Arab Saudi menunjukkan bahwa Iran dan proksinya sedang berupaya merebut kembali inisiatif dalam perang. Hal ini dapat menghambat pemulihan produksi minyak di Teluk dan meningkatkan risiko kenaikan harga energi global lebih lanjut dalam beberapa minggu mendatang," kata Wakil Kepala Ekonom Pasar Negara Berkembang di Capital Economics, Jason Tuvey dikutip dari CNN, Jumat (11/9/2026).

Senada, untuk pertama kalinya sejak perang dimulai, S&P Global Energy memperkirakan produksi minyak Timur Tengah tidak kembali ke tingkat sebelum perang pada akhir tahun depan. Kini perusahaan tersebut tidak lagi berasumsi bahwa perang akan berakhir secara pasti atau situasi di Selat Hormuz akan kembali normal pada akhir 2027.

"S&P kini memperkirakan harga minyak akan tetap tinggi, di kisaran US$ 80 hingga US$ 100 per barel hingga tahun depan," tulis CNN.



(igo/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads