×
Ad

Pertamina: Harga Pertamax Akan Berkisar Rp 18-20 Ribuan

Retno Ayuningrum - detikFinance
Jumat, 11 Sep 2026 13:52 WIB
Ilustrasi pengisian BBM Pertamax di SPBU. Foto: Bima Bagaskara/detikJabar
Cilacap -

Konflik yang terjadi di Timur Tengah, khususnya di Selat Hormuz memberikan dampak terhadap ketidakstabilan harga energi dan minyak mentah dunia. Eskalasi yang tak kunjung mereda ini juga turut berdampak pada harga bahan bakar minyak (BBM).

Direktur Pemasaran Ritel Pertamina Patra Niaga Eko Ricky Susanto menilai situasi saat ini jauh lebih pelik dibandingkan masa konflik Ukraina dan Rusia sebelumnya. Dampak dari perang di Timur Tengah membuat harga minyak dunia belum menunjukkan tanda-tanda stabil atau mengalami penurunan signifikan.

"Katanya hari ini harga dunia, BBM juga sedang naik lagi dibandingkan, jadi kalau berharap turun US$ 70 per barel atau US$ 60 per barel sebelum terjadinya krisis geopolitik, ya kita doakan mungkin semoga itu bisa terjadi dalam waktu segera," ujar Eko dalam acara Pertamax Journey di Cilacap, Jawa Tengah, Jumat (11/9/2026).

Dia menjelaskan jika tren harga minyak global terus bertahan tinggi tanpa adanya indikasi penurunan, harga produk bahan bakar non subsidi, seperti Pertamax bisa berpotensi mengalami penyesuaian hingga ke level Rp 20 ribu per liter.

"Karena kalau tidak kondisi ini akan berdampak seperti sekarang, harga Pertamax dan lain-lain itu akan berkisar antara di angka Rp 18-20 ribuan, karena belum ada indikasi terjadi penurunan harga minyak dunia," beber Eko.

Sebelumnya, perang antara Amerika Serikat (AS) yang kembali memanas dengan Iran membuat harga minyak dunia melonjak. Pada perdagangan hari Kamis saja sempat tembus US$ 108 per barel. Ini merupakan pertama kalinya harga minyak dunia setinggi ini sejak Mei 2026.

Harga minyak sudah naik lagi di atas US$ 100 per barel minggu ini seiring dengan meningkatnya pertempuran di Selat Hormuz dan Laut Merah. AS dan Iran saling melancarkan serangan, sementara Houthi yang didukung Iran menyerang Arab Saudi dan memicu ketegangan di Selat Bab al-Mandab.

Kondisi ini membuat para pedagang memborong banyak minyak mentah untuk bersiap menghadapi gangguan pasokan yang lebih berkepanjangan, secara otomatis membuat harga komoditas energi yang satu ini terkerek.




(rea/hal)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork