Harga minyak dunia kembali melesat setelah Arab Saudi menutup East-West Pipeline, jalur penting yang selama ini digunakan untuk mengirim minyak tanpa melewati Selat Hormuz.
Dilansir dari CNBC, Senin (14/9/2026), pada perdagangan Minggu, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) naik 2,8% menjadi US$ 102,87 per barel. Harga minyak Brent juga terkerek 3,1% ke level US$ 107,87 per barel.
Penutupan dilakukan setelah East-West Pipeline rusak akibat serangan drone yang diluncurkan dari Irak pada Kamis. Hingga kini, pemerintah Arab Saudi belum mengungkap tingkat kerusakan pipa maupun berapa lama jalur tersebut akan berhenti beroperasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Serangan itu juga berimbas pada agenda diplomatik di kawasan. Pertemuan Iran dengan negara-negara Arab Teluk yang sedianya digelar Senin di Oman untuk membahas situasi Selat Hormuz akhirnya ditunda.
"Demi mencapai kesepakatan bersama, pertemuan regional yang dijadwalkan besok di Salalah telah ditunda. Kami tetap berkomitmen mendorong dialog yang mendukung stabilitas dan kerja sama jangka panjang di kawasan," kata Menteri Luar Negeri Oman Badr Albusaidi, Minggu.
Sementara itu, kondisi keamanan di Selat Hormuz masih belum mereda. Sebuah kapal tanker kembali mendapat serangan pada Minggu hingga mengalami kebakaran hebat, berdasarkan laporan United Kingdom Maritime Trade Operations Center.
East-West Pipeline memiliki kapasitas hingga 7 juta barel minyak per hari. Jalur ini membentang melintasi Arab Saudi, menghubungkan kawasan penghasil minyak di dekat Teluk Persia dengan terminal ekspor di pesisir Laut Merah.
Keberadaan pipa tersebut menjadi semakin penting sejak perang Iran mengganggu pasokan minyak. Saudi memanfaatkannya untuk mengalihkan pengiriman minyak dari kawasan Teluk di tengah perebutan kendali Selat Hormuz antara Iran dan Amerika Serikat (AS).
CEO Saudi Aramco Amin Nasser bahkan pernah menyebut pipa tersebut lebih berperan dalam menjaga stabilitas pasar minyak dibandingkan pelepasan cadangan minyak strategis secara besar-besaran yang dipimpin AS. Pernyataan itu disampaikan Nasser dalam paparan kinerja perusahaan pada Agustus.
Tekanan terhadap Arab Saudi juga datang dari kelompok-kelompok bersenjata yang bersekutu dengan Iran. Pada awal pekan lalu, kelompok Houthi di Yaman menyerang fasilitas energi dan sejumlah aset sipil di Saudi.
Berdasarkan laporan media pemerintah Saudi, serangan itu menyebabkan lebih dari 70 orang terluka. Houthi juga dilaporkan telah merebut Pulau Perim yang berada di Selat Bab el-Mandeb setelah sebelumnya menguasai kota pelabuhan Mokha di pesisir barat Yaman.
Penguasaan wilayah tersebut membuat posisi Houthi semakin kuat untuk mengganggu lalu lintas minyak melalui Bab el-Mandeb, salah satu akses yang menghubungkan Laut Merah bagian selatan dengan pasar global. Sebelumnya, Houthi telah mengumumkan embargo maritim terhadap Arab Saudi pada Juli.
Simak juga Video 'Wapres AS: Harga Minyak Tinggi karena Iran Tembaki Kapal di Selat Hormuz':
(acd/acd)









































