×
Ad

AS Pasang Tarif 104% ke Panel Surya, RI Akhirnya Pilih Pakai Sendiri

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 06 Okt 2026 12:27 WIB
Foto: Foto: dok. Harita Nickel
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan produk panel surya asal Indonesia dikenakan tarif bea masuk hingga 104% di Amerika Serikat (AS). Kondisi membuat pemerintah enggan melanjutkan ekspor produk ini dan pilih untuk menggunakannya di dalam negeri.

Ia menjelaskan kondisi ini berawal dari kondisi Indonesia yang memiliki kapasitas produksi panel surya yang telah mendekati 11 gigawatt (GW). Karena sudah memiliki kapasitas terpasang yang besar, banyak produk panel surya Indonesia kemudian diekspor ke AS.

Namun, lonjakan kinerja ekspor yang cukup signifikan ke Negeri Paman Sam itu, pemerintahan Presiden AS Donald Trump justru malah mengenakan tarif impor yang sangat tinggi. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga pasar Paman Sam dari gempuran panel surya Indonesia.

"Beberapa rantai yang kita harus jaga yaitu dari segi bahan baku tentu energi, dan energi ini bisa juga dari surya yang relatif Indonesia sudah mempunyai kapasitas produksi mendekati 11 gigawatt dan ekspor Indonesia naik ke Amerika dalam 1 tahun lebih dari 100% tetapi dampaknya juga langsung Indonesia dikenakan bea masuk untuk solar panel 104%" kata Airlangga dalam acara BIG Downstream Insight, Jakarta Selatan, Selasa (6/10/2026).

Airlangga mengatakan pengenaan tarif 104% tersebut secara otomatis menutup pintu perdagangan solar panel Indonesia ke AS. Atas dasar inilah pemerintah kemudian mengalihkan fokus untuk menyerap semua produksi dalam negeri melalui program listrik bersih 100 gigawatt peak (GWp).

"Dipastikan kita tidak bisa lagi ekspor solar panel ke Amerika. Oleh karena itu Bapak Presiden mendorong bahwa ini untuk meningkatkan domestic demand dengan agenda untuk mendorong 100 gigawatt peak daripada solar panel," jelasnya.

Menurutnya pengalihan produk panel surya ke pasar dalam negeri ini nantinya akan ditingkatkan dengan pengembangan sistem penyimpanan energi (Battery Energy Storage System/BESS) guna memperkuat ekosistem baterai nikel nasional.

"Nah ini nanti diperkirakan dari renewable energy, solar panel beserta battery storage system yang sangat mendukung ekosistem baterai yang sudah disiapkan oleh Indonesia yang berbasis kepada nikel," pungkas Airlangga.

Tonton juga video "Bahaya Tersembunyi di Balik Energi Surya Eropa"




(igo/fdl)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork