×
Ad

Harga Minyak Masih Betah di US$ 100 per Barel

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Kamis, 08 Okt 2026 07:40 WIB
Foto: dok. PGN
Jakarta -

Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) sepakat untuk mempercepat pelepasan stok minyak ke pasar. Hal ini membawa sedikit angin segar pada penurunan harga minyak dunia.

Badan otonom di bawah afiliasi Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) itu mengatakan telah menyelesaikan kesepakatan dengan beberapa negara untuk melakukan pelepasan stok minyak sekitar 100 juta barel ke pasar. Prancis disebut menjadi salah satu negara yang akan melepaskan 10 juta barel diesel dari stok strategisnya.

Dilansir dari Reuters, Kamis (8/10/2026) upaya ini dilakukan untuk menekan harga bahan bakar yang mencapai rekor tertinggi karena perang Iran menekan pasokan global.

Alhasil, kontrak berjangka minyak mentah Brent pun jadi turun 38 sen, atau 0,38%, menjadi US$ 100,20 per barel. Sementara itu, kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun US$ 1,16, atau 1,3%, menjadi US$ 88,28.

Risiko Masih Tinggi

Meski begitu, risiko kenaikan harga tetap berada di depan mata. Salah satunya disebabkan oleh stok minyak mentah dan persediaan distilat di AS turun di tengah stok bensin naik pekan lalu.

Badan Informasi Energi AS (Energy Information Administration/EIA) mencatat pasokan minyak mentah turun 3,2 juta barel menjadi 424,1 juta barel pada pekan lalu.

Sementara itu badai ada perkiraan badai terbentuk di Teluk Meksiko dan akan menjadi badai Atlantik pertama tahun 2026 dan kemungkinan akan menghantam fasilitas minyak dan gas. Tentu ini bisa membuat pasokan dan produksi minyak jadi terhambat.

Menurut EIA, fasilitas produksi di sepanjang Teluk Meksiko dapat menghasilkan 2,05 juta barel minyak mentah per hari pada bulan September, yang menyumbang sekitar 15% dari total produksi negara tersebut. Sekitar 11,2 juta barel produksi minyak dapat hilang di seluruh Teluk selama badai berlangsung.

Di sisi lain kondisi geopolitik dan perang yang terjadi di beberapa kawasan, khususnya Timur Tengah, juga masih menjadi sorotan. Perang masih memanas, Kelompok Houthi Yaman menyerang Bandara Internasional Aden dengan rudal dan drone seiring meningkatnya pertempuran antara kelompok yang bersekutu dengan Iran dan pasukan pemerintah yang didukung Saudi.

Sementara itu, Ukraina pun menyerang dua fasilitas minyak Rusia. Sementara Rusia membombardir Ukraina dengan gelombang rudal dan drone, menewaskan sedikitnya 15 orang, kata para pejabat Ukraina.

Serangan terhadap infrastruktur energi Rusia dan hilangnya kapasitas penyulingan di Timur Tengah jelas dapat menjadi ancaman bagi kestabilan harga pasar bahan bakar.




(acd/acd)
Berita Terkait
Berita detikcom Lainnya
Berita Terpopuler

Video

Foto

detikNetwork