Harga Minyak Dunia Turun Usai Trump Longgarkan Sanksi Rusia

Harga Minyak Dunia Turun Usai Trump Longgarkan Sanksi Rusia

Heri Purnomo - detikFinance
Senin, 19 Okt 2026 08:30 WIB
A drone view of a pump jack and drilling rig south of Midland, Texas, U.S. June 11, 2025. REUTERS/Eli Hartman
Ilustrasi/Foto: REUTERS/Eli Hartman
Jakarta -

Harga minyak dunia turun pada perdagangan Senin (19/10) setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump membebaskan Rusia dari sanksi dan tarif tertentu. Kebijakan ini berpotensi meningkatkan ekspor bahan bakar Rusia di tengah ketatnya pasokan energi global.

Dikutip dari Reuters, Senin (19/10/2026), harga minyak mentah Brent turun US$ 1,43 atau 1,30% menjadi US$ 108,43 per barel setelah ditutup pada level tertinggi sejak 19 Mei pada Jumat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS berada di level US$ 100,88 per barel, turun 53 sen atau 0,52%.

Sebagai informasi, Trump menandatangani perintah eksekutif untuk membebaskan Rusia dari sanksi dan tarif utama berdasarkan undang-undang yang dikenal sebagai Graham Act pada Jumat. Undang-undang tersebut ditandatangani bulan lalu atas desakan para anggota parlemen yang ingin menekan Rusia terkait perang di Ukraina.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

ADVERTISEMENT

Meski begitu, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mengatakan bahwa Trump akan menggunakan waktu hingga 60 hari untuk menilai dampak ekonomi dari kebijakan pembebasan tersebut.

Langkah ini dilakukan setelah Trump mencapai kesepakatan dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk mengekspor solar ke AS. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan tindakan AS tersebut akan merugikan Ukraina.

Di sisi lain, harga minyak Brent sempat menyentuh US$ 110 per barel pada Jumat, pertama kalinya sejak Mei. Kenaikan tersebut dipicu meningkatnya ketegangan dan ancaman keamanan di Timur Tengah yang memunculkan kekhawatiran terhadap keselamatan pelayaran serta pasokan energi global.

Serangan yang semakin intensif terhadap kapal-kapal komersial turut memangkas aliran minyak mentah dari kawasan Teluk. Perusahaan analitik Kpler mencatat aliran minyak mentah tersebut turun menjadi sekitar 8,5 juta barel per hari berdasarkan rata-rata tujuh hari pada pekan lalu, dari lebih dari 20 juta barel per hari pada pekan sebelumnya.

Kpler menambahkan, sedikitnya 10 insiden yang terkonfirmasi melibatkan kapal komersial dilaporkan terjadi sepanjang pekan lalu. Ketegangan perang di Timur Tengah berpotensi meningkat setelah Mesir menyatakan kesiapannya memberikan dukungan yang dibutuhkan Arab Saudi untuk mempertahankan keamanan dan stabilitasnya dari kelompok Houthi di Yaman yang bersekutu dengan Iran.

(hrp/ara)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads