Bantu Suahasil Tambal Subsidi BBM, Bahlil Target PNBP Minerba Tembus Rp 165 T

Bantu Suahasil Tambal Subsidi BBM, Bahlil Target PNBP Minerba Tembus Rp 165 T

Heri Purnomo - detikFinance
Jumat, 23 Okt 2026 19:00 WIB
Pekerja mengoperasikan alat berat saat bongkar muat batu bara ke dalam truk yang didatangkan dari Samarinda di Pelabuhan  PLTU Tidore Kepulauan, Maluku Utara, Kamis (4/1/2023). Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat alokasi penggunaan batubara dalam negeri pembangkit dan industri dalam lima tahun ke depan akan naik 165 juta ton menjadi 208,5 juta ton di tahun 2025 yang didominasi oleh pembangkit listrik. ANTARA/Andri Saputra/foc.
Ilustrasi bongkar muat batu bara. Foto: ANTARA FOTO/STR
Jakarta -

Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menargetkan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) dari sektor mineral dan batu bara (minerba) untuk tahun ini bisa tembus Rp 165 triliun. Angka ini melebihi target PNBP dalam APBN sebesar Rp 133,63 triliun.

Bahlil melaporkan realisasi PNBP sektor minerba pada periode Januari-Oktober 2026 sudah mencapai Rp 127,74 triliun. Angka ini sudah mendekati target APBN sebesar Rp 133,63 triliun

Dia mengatakan jika realisasi PNBP dari sektor minerba ini terwujud, maka tambahan penerimaan tersebut diharapkan dapat membantu menutup defisit anggaran subsidi bahan bakar minyak (BBM).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Target kita nanti untuk membantu Menteri Keuangan dalam rangka menambal defisit terhadap subsidi BBM, itu kita akan mencapai Rp 165 triliun, Pak Menteri Keuangan. Jadi surplus sekitar Rp 30 T lebih. Ini untuk PNBP," kata Bahlil dalam Sidang Kabinet yang disiarkan di YouTube Sektretariat Presiden, Jumat (23/10/2026).

ADVERTISEMENT

Pria yang juga merangkap jabatan sebagai Menteri ESDM itu melaporkan perkembangan eskpor baru bara tahun ini di depan Prabowo. Ada sedikit anomali pada realisasi ekspor batu bara tahun ini.

Volume ekspor Januari-September 2026 turun menjadi sekitar 343 juta ton dibandingkan 374 juta ton pada periode yang sama tahun sebelumnya. Namun, nilai ekspor justru meningkat dari sekitar US$ 21 miliar menjadi US$ 23,71 miliar.

Kondisi tersebut menunjukkan peningkatan nilai ekspor di tengah penurunan volume komoditas yang dikirim ke luar negeri. "Jadi barang produksi turun pendapatan naik," tegasnya.

Sementara itu, ekspor nikel juga menunjukkan peningkatan. Hingga Agustus 2026, nilai ekspor nikel dilaporkan mencapai sekitar US$ 24,55 miliar, naik dibandingkan periode Januari–Agustus 2025 yang tercatat sebesar US$ 21,22 miliar.

(hrp/hal)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads