Pemerintah Targetkan PLTS 100 GW, 4 Sektor Ini Bisa Jadi Potensi Pasar

Pemerintah Targetkan PLTS 100 GW, 4 Sektor Ini Bisa Jadi Potensi Pasar

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 27 Okt 2026 14:54 WIB
PLTS
Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Pemerintah memiliki program pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt-peak (GWp). Namun, program ini menghadapi satu pertanyaan penting, yakni dari mana permintaan listrik yang bisa menyerap tambahan kapasitas tersebut.

Studi Tenggara Strategics dan CSIS Indonesia mengidentifikasi empat sektor yang berpotensi mendorong permintaan listrik nasional, yaitu kendaraan listrik, kompor induksi rumah tangga, industri pengolahan mineral seperti smelter nikel, serta pusat data. Keempat sektor tersebut memiliki celah penyediaan listrik sebesar 65-207 GW hingga 2070.

Elektrifikasi kendaraan dan rumah tangga berpotensi mengurangi konsumsi BBM dan LPG impor. Sementara itu, pertumbuhan industri smelter dan pusat data dapat menciptakan kebutuhan listrik baru dalam jumlah besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Peningkatan permintaan listrik tersebut berpeluang menjadi pasar bagi tambahan pasokan energi terbarukan. Apalagi, Indonesia memiliki potensi energi surya mencapai 3.294 GW. Namun, kapasitas PLTS yang telah terpasang baru sekitar 1,5 GW.

Program PLTS 100 GWp dirancang melalui pengembangan sekitar 20 GWp PLTS skala utilitas dan 80 GWp PLTS terdistribusi, termasuk untuk elektrifikasi perdesaan. PLTS terdistribusi diharapkan dapat memperluas akses listrik sekaligus mengurangi penggunaan pembangkit diesel di wilayah terpencil.

ADVERTISEMENT

Meski begitu, penambahan kapasitas pembangkit tidak cukup tanpa dukungan infrastruktur. Produksi listrik tenaga surya bergantung pada sinar matahari sehingga perlu didukung sistem penyimpanan energi baterai atau battery energy storage system (BESS). Teknologi ini dibutuhkan untuk menyimpan listrik dan membantu memenuhi kebutuhan ketika produksi PLTS menurun.

Jaringan transmisi juga perlu diperluas agar listrik dari pembangkit energi terbarukan dapat disalurkan ke pusat konsumsi, terutama kawasan industri. Selain itu, kepastian mekanisme tarif dan skema pendapatan BESS diperlukan agar investasi penyimpanan energi menarik secara komersial.

Program ini juga berpotensi mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi. Konsumsi BBM dan LPG terus meningkat ketika produksi minyak domestik cenderung menurun. Kondisi tersebut membuat Indonesia rentan terhadap gejolak harga energi global sekaligus meningkatkan tekanan terhadap anggaran subsidi dan kompensasi energi.

Tenggara Strategics menilai program PLTS 100 GWp dapat menjadi momentum untuk mengatasi hambatan struktural pengembangan energi terbarukan. Elektrifikasi dapat menciptakan permintaan listrik baru, sedangkan pengembangan PLTS menyediakan alternatif pasokan yang lebih bersih.

Karena itu, keberhasilan program PLTS 100 GWp tidak cukup diukur dari kapasitas pembangkit yang dibangun. Pemerintah juga perlu memastikan permintaan listrik tumbuh, jaringan siap menyalurkan pasokan, dan listrik yang dihasilkan dapat terserap secara optimal.

Lihat juga Video: Prabowo Ingin Setiap Desa Minimal Punya PLTS 1 Megawatt

(fdl/fdl)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads