Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 04 Mar 2019 16:25 WIB

Strategi LinkAja Salip Dominasi GoPay dan OVO

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Foto: LinkAja Foto: LinkAja
Jakarta - Layanan financial technology (fintech) pembayaran berbasis QR Code besutan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) LinkAja sudah softlaunching pada 3 Maret lalu. LinkAja disebut akan meramaikan pasar fintech pembayaran yang saat ini masih didominasi oleh GoPay dan OVO.

Corporate Secretary Bank Mandiri Rohan Hafas menjelaskan LinkAja nantinya akan memberikan promo-promo kepada pengguna. "Nanti promo akan ke masing-masing produk dari BUMNnya, bukan bersifat seragam tapi ada promo baku yang sudah ditetapkan. Produknya kan beda-beda," kata Rohan di Kementerian BUMN, Jakarta, Senin (4/3/2019).

Dia menjelaskan misalnya untuk Pertamina yang menjadi salah satu pemegang saham akan memberikan promo di pompa-pompa bensin miliknya. "Promonya tentu beda dengan restoran, bank atau toko," jelas dia.


Rohan menambahkan selain promosi untuk pengguna. LinkAja akan mengandalkan nasabah-nasabah eksisting yang ada di bank selama ini. Misalnya nasabah korporasi yang memiliki ritel bisnis seperti food and beverage. Nantinya ini akan diajak kerja sama untuk promosi.

"Jadi kekuatan kita lebih ke situ, satu paket dikasih kredit sampai ke perusahaan. Terus kita kasih promo diskon," ujar dia.

LinkAja adalah produk T-cash milik Telkomsel, Yap! milik BNI, e-Cash milik Bank Mandiri dan T-bank dari Bank BRI. Dibentuknya Finarya sebagai rumah bagi layanan dompet digital BUMN sudah digodok sejak kuartal III-2018. Fintech ini disiapkan untuk menghadapi Go-Pay dan OVO yang tumbuh pesat kurang dari lima tahun dan membuat produk dompet digital BUMN kurang diminati masyarakat.


Dengan penggabungan ini diharapkan BUMN lebih bisa bersaing dengan OVO dan Go-Pay dan maksimal menggarap nasabah dan pelanggan Telkomsel. Saat ini pelanggan T-Cash 30 juta pelanggan sementara pelanggan Telkomsel mencapai 200 juta orang. Bank BUMN juga rata-rata memiliki jumlah nasabah di atas 10 juta orang.

"Kita gabung, agar bisa efisien. Jadi promosinya bisa bersama-sama dan tidak duplikasi," ujar Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Survei dan Konsultasi Kementerian BUMN Gatot Trihargo. (kil/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed