Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 02 Jul 2019 12:17 WIB

Liputan Khusus Pinjol Uang Sekolah

Apakah Pinjol Pilihan Tepat Buat Bayar Uang Sekolah?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Foto: Ilustrasi Uang Sekolah (Tim Infografis: Zaki Alfarabi & Mindra Purnomo) Foto: Ilustrasi Uang Sekolah (Tim Infografis: Zaki Alfarabi & Mindra Purnomo)
Jakarta - Pinjol kini menjelma dalam berbagai bentuk, beragam kebutuhan bisa dipenuhi dengan biaya yang dipinjamkan para fintech. Termasuk pendidikan salah satunya, di tengah biaya pendidikan yang cukup mahal, pinjol hadir jadi alternatif.

Namun, meski jadi salah satu alternatif pendanaan buat bayar sekolah, Perencana Keuangan Aidil Akbar tidak menyarankan penggunaan pinjol. Menurut Aidil untuk pendidikan sendiri harusnya sudah direncanakan pendanaannya.

Aidil mengatakan pada prinsipnya memang kurang tepat apabila biaya pendidikan dicover oleh utang. Seharusnya, orang tua bisa merencanakan dan menabung uang untuk pendidikan anak.

"Harusnya kalau dana pendidikan itu dianggarkan sejak anak baru lahir, bahkan kalau ibunya masih hamil sudah direncanakan. Jadi kalau baru ambil pinjaman, terus kemarin kemana aja," kata Aidil kepada detikFinance.

"Secara teori ya memang dana pendidikan dicover pakai utang tidak terlalu tepat ya, utang kan mau dimanapun ada bunganya," tambahnya.

Aidil memang tidak menyarankan menggunakan pinjol untuk biaya pendidikan. Namun, menurutnya ada beberapa golongan yang cocok dengan skema pinjol ini untuk membiayai pendidikan.

"Saya liat, produk ini cocoknya untuk orang yang sudah kerja, yang dia mau naikin skillnya, dia ambil pinjaman dan dicicil pakai gaji bulanan. Itu mungkin target marketnya lebih cocok kesana dibanding buat ibu-ibu bayar sekolah buat anaknya," kata Andi.

Andi mencontohkan misalnya ada pekerja yang mau menambahkan titelnya untuk menunjang karir, dia melakukan pengajuan ke pinjol. Nantinya, karena sudah berpenghasilan dia akan bayar pinjaman dengan gajinya.

"Beda lagi kalau misal saya nih S1 sudah kerja saya punya penghasilan, saya mau ambil S2 nggak punya uang. Tapi sudah hitung kalau saya pinjam Rp 60 juta buat S2 saya bisa naik pangkat atau naik gaji, tinggal saya cicil pakai gaji bulanan," papar Aidil.

Perencana Keuangan lainnya, Andi Nugroho mengatakan bahwa sebaiknya mencari cara lain untuk biayai pendidikan dibanding harus pakai pinjol. Andi beralasan bahwa bunga pinjol pasti besar.

"Kalau menurut saya sih, perlu diingat kalau fintech itu bunga pasti tinggi ya, jadi misal ada alternatif lain saya menyarankan menggunakan yang lain," kata Andi saat berbincang dengan detikFinance.

Memang dari beberapa fintech mengatakan bunga yang ditawarkan relatif kecil bahkan flat. Andi mengingatkan tetap hati-hati mengenai hal tersebut, bisa saja itu hanya akal-akalan marketing.

"Kalau kata saya sih tetap hati-hati aja, dicek lagi benar nggak segitu. Bisa aja, itu pinter-pinter marketing kemas produk aja," ungkap Andi.
Pinjol memang memberikan dana yang cepat namun Andi kembali menegaskan cari dulu alternatif lain. Bahkan, dibanding mengajukan pinjaman lewat pinjol, Andi lebih menyarankan agar orang tua menjual barang atau aset, atau bisa juga menggadaikan barang untuk memperoleh dana bayar sekolah.

"Karena mungkin ortu terdesak ya fintech kasih dana cepat cair. Tapi saya rasa mending ke alternatif lain, lebih baik malah saya sarankan jual barang dan aset, atau bisa juga gadai barang, relatif lebih aman gitu," kata Andi.

Simak Video "LBH Desak OJK Turun Tangan"
[Gambas:Video 20detik]
(dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed