Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 04 Sep 2019 12:23 WIB

Fintech Menjamur tapi Literasi Keuangan Orang RI Masih Rendah

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: detik Foto: detik
Jakarta - Hadirnya financial technology (fintech) menjadi terobosan baru bagi masyarakat dalam bertransaksi menggunakan jasa keuangan. Di satu sisi, kehadiran fintech juga menjadi ancaman melihat masih rendahnya literasi keuangan maupun digital orang Indonesia secara umum.

Salah satu ancaman yang terasa saat ini lewat maraknya fintech pinjaman online atau peer to peer lending yang tak teregistrasi alias ilegal. Pinjaman online ilegal menjadi ancaman bagi masyarakat yang minim literasi keuangan dan digital karena bisa terjebak dalam pusaran utang.

"Memang tantangan yang kita hadapi masih rendahnya literasi keuangan masyarakat kita. Baik literasi digital, literasi umum pun masih jauh dari angka indeks inklusi kita. Baru 35% orang dewasa yang melek jasa keuangan," katanya dalam Indonesia Fintech Forum 2019 di Auditorium Dhanapala, Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (4/9/2019).


Edukasi secara terus menerus memang dilakukan. Namun penetrasi edukasi baik dari pelaku fintech dan juga regulator perlu lebih ditingkatkan.

"Intensitasnya memang perlu lebih ditingkatkan," katanya.

Di lain hal, fintech juga telah membantu banyak masyarakat Indonesia saat ini yang belum tersentuh oleh perbankan. Dari data OJK, 127 fintech P2P lending yang teregistrasi di OJK saat ini, tercatat jumlah kredit yang sudah disalurkan mencapai Rp 49 triliun. Jumlah borrower saat ini juga mencapai 5 juta orang dan 500 ribu investor atau lender.



Simak Video "Telat Bayar Utang Fintech, Wanita di Solo Diteror"
[Gambas:Video 20detik]
(eds/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com