Follow detikFinance Follow Linkedin
Kamis, 09 Jan 2020 13:21 WIB

Central Park dan Pluit 'Sarang' Pinjol Ilegal, Kebanyakan dari China

Danang Sugianto - detikFinance
Foto: istimewa
Jakarta - Central Park dan Pluit disebut-sebut jadi sarang perusahaan fintech ilegal. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pun melarang perusahaan Fintech Peer To Peer Lending (FP2PL) terdaftar dan berizin berkantor di dua wilayah tersebut.

OJK mengaku mendapatkan informasi maraknya perusahaan pinjaman online (pinjol) ilegal di dua wilayah itu dari Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI). Mereka disinyalir beroperasi secara terselubung.

Ketua Umum AFPI Adrian Gunadi mengakui bahwa pihaknya menemukan banyak sekali fintech ilegal di kedua wilayah tersebut. Informasinya didapat dati anggotanya sendiri.

"Kebetulan dari data yang diperoleh beberapa fintech ilegal berkantor di kawasan tersebut," ujarnya kepada detikcom, Kamis (9/1/2020).



Adrian mengaku tak tahu persis jumlah dari fintech ilegal di kawasan itu. Namun dia meyakini kebanyakan dari mereka berasal dari China.

"Ilegal dari China. Jumlah ilegal online data persisnya tidak hafal saya. Hanya beberapa case ilegal yang ditemukan berlokasi di kawasan tersebut," tambahnya.

detikcom sendiri sudah menyambangi gedung APL Tower yang disinyalir menjadi salah satu gedung sarang fintech bodong. Di kawasan Central Park selain APL Tower ada juga gedung perkantoran Soho Capital.

Saat memasuki lobi APL Tower terdapat papan informasi yang berisi daftar perusahaan yang berkantor beserta lantainya. Menurut penelusuran detikcom hanya ada 3 perusahaan fintech, itu pun sudah terdaftar di OJk atau legal.


Namun, detikcom menemukan salah satu karyawan yang bekerja di perusahaan yang berkantor di APL Tower. Kebetulan juga dia mengetahui informasi tentang tenant-tenant di APL Tower dan Soho Capital.

Menurutnya sebenarnya banyak perusahaan fintech yang berkantor di APL Tower dan Soho Capital. Bahkan jumlahnya terus bertambah.

"Belakangan ini makin ramai banget. APL dan Soho Capital itu banyak banget fintech. Ada yang baru-baru itu. Malah di Desember kemarin itu ada 2-3 fintech baru yang masuk," ucap sumber tersebut.

Lalu kenapa namanya tidak tertera di papan daftar nama perusahaan gedung? Menurut sumber itu ada dua kemungkinan, belum diperbaharui atau memang sengaja disamarkan.

Simak Video "1.230 Fintech Ilegal Dibekukan Selama Tahun 2018-2019"
[Gambas:Video 20detik]
(das/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com