Wacana Gojek 'Kawin' dengan Grab Muncul Lagi

Tim detikcom - detikFinance
Selasa, 15 Sep 2020 10:18 WIB
Tarif baru batas bawah dan batas atas ojek online telah berlaku sejak Senin (2/9/2019). Tarif diatur berdasarkan zonasi.
Foto: Grandyos Zafna
Jakarta -

Dua perusahaan rintisan terbesar di Asia Tenggara, Gojek dan Grab telah dilaporkan melakukan pembicaraan untuk penggabungan usaha atau merger atas arahan dari pemegang saham, termasuk SoftBank. Langkah korporasi ini dibahas usai pendiri grup Jepang Masayoshi Son memberikan restu atas rencana itu.

Seperti dikutip Financial Times, Selasa (15/9/2020), langkah ini dibahas karena perusahaan mengalami kerugian yang besar akibat pandemi virus Corona yang terjadi. Pandemi ini membuat sejumlah negara di Asia Tenggara termasuk Indonesia melakukan pembatasan sosial.

Kedua perusahaan ride hailing tersebut mengalami pendapatan yang turun drastis dan hanya mengandalkan layanan pengiriman makanan saat adanya pembatasan sosial.

Menurut seorang pialang pasar sekunder, saham Grab kini telah diperdagangkan dengan diskon 25%. Saham Gojek juga dijual dengan diskon besar, terutama dari pemegang saham lama yang ingin keluar dari perusahaan. Saat ini valuasi Grab ditaksir menyentuh US$ 14 miliar dan Gojek US$ 10 miliar.

Stres yang disebabkan oleh pandemi dan masalah perusahaan ride-hailing secara global telah menekan bisnis perushaan untuk menyetujui kesepakatan merger.

Rashan Raj dari perusahaan konsultan Redseer mengatakan sebelum Covid-19, kedua startup decacorn ini telah bergerak menuju monetisasi yang lebih baik seperti menaikkan komisi yang ditarik dari driver (pengemudi) dan mengurangi subsidi pelanggan.

"COVID-19 mengganggu tren ini secara material. Kebangkitan ride-hailing bisa memakan waktu lama," tambahnya.

Sebelumnya, pembicaraan merger Grab dan Gojek pada enam bulan lalu mendapat tentangan dari Softbank, salah satu pemegang saham terbesar Grab. Masayoshi Son percaya waktu itu bisnis ride-hailing akan menjadi industri monopoli di mana mereka yang paling banyak uang akan menguasai pasar, ujar orang yang dekat dengan miliuner Jepang tersebut.

Tapi Gojek, yang investornya termasuk grup internet China Tencent dan Meituan-Dianping dan baru-baru ini Facebook dan PayPal Silicon Valley, telah terbukti tangguh, terutama di Indonesia.

(fdl/fdl)