Wow! Total Pinjaman Orang RI di Pinjol Tembus Rp 100 T

Vadhia Lidyana - detikFinance
Senin, 09 Nov 2020 18:45 WIB
Petugas Cash Center BNI menyusun tumpukan uang rupiah untuk didistribusikan ke berbagai bank di seluruh Indonesia dalam memenuhi kebutuhan uang tunai jelang Natal dan Tahun Baru. Kepala Kantor perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Papua mengungkapkan jumlah transaksi penarikan uang tunai sudah mulai meningkat dibanding bulan sebelumnya yang bisa mencapai penarikan sekitar Rp1 triliun. Sedangkan untuk Natal dan tahun baru ini secara khusus mereka menyiapkan Rp3 triliun walaupun sempat diprediksi kebutuhannya menyentuh sekitar Rp3,5 triliun. (FOTO: Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi/Foto: Rachman Haryanto
Jakarta -

Penggunaan layanan financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) meningkat drastis. Pemerintah mencatat, per September 2020 lalu total pinjaman atau pembiayaan yang disalurkan pinjol tembus Rp 100 triliun.

"Dalam penyaluran pinjaman akumulasi penyaluran peer to peer lending mencapai lebih dari Rp 100 triliun hingga September 2020 atau naik 113% secara year on year (dibandingkan dengan September 2019)," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam peluncuran virtual Indonesia Fintech Society (IFSoc), Senin (9/11/2020).

Airlangga mencatat, pengguna pinjol didominasi oleh anak muda dengan rentang usia 19-34 tahun.

Selain itu, Indonesia memang memiliki jumlah startup fintech terbanyak kedua di ASEAN, setelah Singapura.

"Di tahun 2020 kita memiliki startup finetch terbesar. Kita lihat Singapura 39% dari jumlah fintech di ASEAN, kedua Indonesia 20%, Malaysia 15%, dan Thailand 10%. Pada sektor fintech, sektor yang paling dinamis dan komepetitif ditunjukkan dengan adanya berbagai unicorn yakni perusahaan yang besarnya lebih dari US$ 1 miliar, dan decacorn yang lebih dari US$ 10 miliar," papar Airlangga.

Secara keseluruhan, Google dan Temasek mencatat transaksi melalui fintech di ASEAN tembus hingga US$ 40 miliar pada tahun 2019, dengan estimasi pertumbuhan tahunan hampir 50%.

Di Indonesia sendiri, Airlangga memprediksi nilai ekonomi digital Indonesia, salah satunya melalui transaksi fintech pada tahun 2025 akan tembus hingga US$ 130 miliar atau sekitar Rp 1.831 triliun (kurs Rp 14.090).

"Di 2025 fintech diperkirakan meningkat lebih dari US$ 100 miliar, terutama dalam pembayaran digital, e-commerce, transportasi online, distribusi barang. Dan ekosistem diharapkan terus tumbuh untuk membantu inklusi keuangan ke segmen yang selama ini belum dapat akses keuangan di Indonesia," pungkasnya.

(ara/ara)