Naik 113%, Pinjaman Orang RI ke Pinjol Tembus Rp 100 Triliun!

Vadhia Lidyana - detikFinance
Selasa, 10 Nov 2020 08:30 WIB
Pinjam Online
Ilustrasi/Foto: Pinjam Online (Tim Infografis: Andhika Akbarayansyah)
Jakarta -

Layanan financial technology (fintech) peer to peer (P2P) lending atau pinjaman online (pinjol) sangat marak di tengah pandemi virus Corona (COVID-19). Bahkan, pemerintah mencatat total pembiayaan yang disalurkan pinjol di September 2020 tembus Rp 100 triliun.

Menurut data Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, angka itu naik 113% jika dibandingkan dengan periode yang sama di 2019.

"Dalam penyaluran pinjaman akumulasi penyaluran peer to peer lending mencapai lebih dari Rp 100 triliun hingga September 2020 atau naik 113% secara year on year (dibandingkan dengan September 2019)," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto dalam peluncuran virtual Indonesia Fintech Society (IFSoc), Senin (9/11/2020).


Sebagian besar peminjam atau lender di layanan pinjol itu ialah kaum muda dengan rentang usia 19-34 tahun.

Selain nominal pembiayaan dari pinjol yang besar, Indonesia memang memiliki jumlah startup fintech terbanyak kedua di ASEAN, setelah Singapura.

"Di tahun 2020 kita memiliki startup finetch terbesar. Kita lihat Singapura 39% dari jumlah fintech di ASEAN, kedua Indonesia 20%, Malaysia 15%, dan Thailand 10%. Pada sektor fintech, sektor yang paling dinamis dan kompetitif ditunjukkan dengan adanya berbagai unicorn yakni perusahaan yang besarnya lebih dari US$ 1 miliar, dan decacorn yang lebih dari US$ 10 miliar," papar Airlangga.

Secara keseluruhan, Google dan Temasek mencatat transaksi melalui fintech di ASEAN tembus hingga US$ 40 miliar pada tahun 2019, dengan estimasi pertumbuhan tahunan hampir 50%.

Di Indonesia sendiri, Airlangga memprediksi nilai ekonomi digital Indonesia, salah satunya melalui transaksi fintech pada tahun 2025 akan tembus hingga US$ 130 miliar atau sekitar Rp 1.831 triliun (kurs Rp 14.090).

"Di 2025 fintech diperkirakan meningkat lebih dari US$ 100 miliar, terutama dalam pembayaran digital, e-commerce, transportasi online, distribusi barang. Dan ekosistem diharapkan terus tumbuh untuk membantu inklusi keuangan ke segmen yang selama ini belum dapat akses keuangan di Indonesia," urainya.

Selanjutnya
Halaman
1 2