Salut! Habiskan Tabungan buat Dogecoin, Pria Ini Jadi Miliarder

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 21 Apr 2021 15:10 WIB
10 Orang Terkaya Dunia
Ilustrasi/Foto: Tim Infografis, Andhika Akbarayansyah
Jakarta -

Lonjakan tajam Dogecoin pada akhir pekan lalu membuat sejumlah investornya jadi miliarder mendadak. Berkat uang kripto berlogo anjing Shiba Inu itu, bikin kekayaan yang investasi bisa meningkat dalam sekejap.

Seperti yang dialami oleh pria asal Los Angeles yang berhasil mengubah semua tabungannya dari US$ 188.000 atau setara Rp 2,73 miliar (kurs Rp 14.530/US$) menjadi US$ 2 juta atau setara Rp 29 miliar berkat Degocoin.

Pria berusia 33 tahun yang tak mau disebutkan namanya itu mengaku investasi di Dogecoin sejak Februari 2021.

"Saya menemukan Dogecoin dan setelah melakukan penelitian intensif selama sekitar satu minggu tentang semua pro dan kontra crypto, saya memutuskan bahwa (Dogecoin) sangat undervalued. (Saya) menjual semua saham saya dan mengosongkan semua rekening tabungan saya dan menaruh setiap dolar yang saya miliki dibuat menjadi Dogecoin," kata pria tersebut dikutip dari Newsweek, Rabu (21/4/2021).

Dogecoin memang sempat mencapai nilai tertingginya pada Jumat (16/4) dengan market cap hingga US$ 52,2 miliar atau setara Rp 760,26 triliun. Saat itu satu Dogecoin setara dengan US$ 0,404 atau Rp 5.888, menurut catatan website pemantau crypto CoinBase.

Sejumlah investor amatir di forum internet Reddit juga mengaku bahwa mereka jadi miliarder selama lonjakan Dogecoin tersebut. Per Senin (19/4) pukul 12.45 WIB, satu Dogecoin memiliki harga Rp 4.810. Kapitalisasinya mencapai Rp 625,5 triliun, dengan pasokan berjumlah 129,2 miliar koin.

Menurut catatan CoinBase, daam satu tahun terakhir nilai Dogecoin telah melesat 15.083,2%. Namun para pengamat mewanti-wanti bahwa gelembung nilai cryptocurrency seperti Dogecoin dan Bitcoin rentan pecah seperti kasus yang pernah terjadi pada 2017-2018 lalu dengan istilah 'crypto bubble'.

"Kebangkitan Dogecoin adalah contoh klasik dari teori bodoh yang sedang dimainkan," ujar Analis Freetrade, David Kimberley.

(aid/eds)